PS3 拡張ユニット

In document SC-T7250D/SC-T5250D/SC-T7250/SC-T5250/SC-T3250 (Page 145-156)

Energi uap merupakan energi yang sangat besar dibutuhkan oleh industri. Pada umumnya, energi uap di industri digunakan sebagai energi pembangkit

0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 51 51,2 51,4 51,6 51,8 52

kadar air ampas tebu (%)

p enggu na an I D O (kk al /kg t ebu)

tenaga, baik mekanik maupun listrik. Penggunaan uap sebagai pembangkit tenaga, memiliki keuntungan yang cukup besar bagi industri gula. Adapun keuntungan yang didapat, antara lain : (1) uap dihasilkan dari air yang murah dan mudah didapat; (2) uap tidak berbau; (3) penyaluran dan pengaturan uap sangat mudah dilakukan; (4) uap memiliki nilai panas yang tinggi; dan (5) panas dari uap dapat dimanfaatkan secara berulang-ulang.

Tenaga uap di PG. Tersana Baru secara langsung digunakan pada proses produksi gula untuk menguapkan air di stasiun penguapan (evaporator). PG. Tersana Baru memiliki tiga unit ketel uap Tekanan Tinggi (TT) yaitu ketel uap jenis Hitachi dengan kapasitas terpasang 40 ton uap/jam, ketel uap jenis Stork dengan kapasitas terpasang 37,5 ton uap/jam, dan ketel uap jenis Maxiterm dengan kapasitas terpasang 70 ton uap/jam. Tetapi, untuk ketel uap jenis maxiterm selama musim giling 2007 tidak digunakan, dikarenakan sedang dalam perbaikan. PG. Tersana Baru juga memiliki ketel uap Tekanan Rendah (TR) jenis Weerkspoor dengan kapasitas terpasang 6 ton uap/jam berjumlah dua ketel dan dengan kapasitas terpasang 4,5 ton uap/jam berjumlah enam ketel. Tetapi, untuk salah satu kapasitas terpasang 4,5 ton uap/jam selama musim giling 2007 tidak digunakan, dikarenakan sedang dalam perbaikan.

Konsumsi uap per periode pada musim giling 2007 di PG. Tersana Baru dapat dilihat pada Tabel 14 dan kecenderungan penggunaan uap selama musim giling tahun 2007.

Tabel 14. Penggunaan Uap di PG. Tersana Baru tahun 2007

Periode Konsumsi Uap

(ton/jam)

Waktu Giling (jam)

Uap (kkal/kg)

Total Konsumsi Uap (kkal/ton tebu) 1 105,27 198 588 518.386 2 105,27 286 586 441.678 3 105,27 286 541 431.685 4 105,27 330 551 435.232 5 105,27 330 546 431.330 6 105,27 352 544 428.412 7 105,27 286 545 414.991 8 105,27 308 545 405.412 9 105,27 220 543 425.745 10 105,27 330 540 430.167 Total 1.052,70 2.926 553 4.363.039

Berdasarkan Tabel 14 terlihat kecenderungan penggunaan energi uap di PG. Tersana Baru dalam kondisi stabil. Kecenderungan ini terjadi karena energi uap diproduksi secara terus menerus sesuai dengan kapasitas terpasang ketelnya dan seluruh uap yang dihasilkan, akan dihitung sebagai konsumsi uap oleh pabrik. Walaupun, dalam proses produksi uap yang dihasilkan tidak seluruhnya dapat digunakan karena sebagian kecil uap yang dihasilkan harus dibuang (Blow down). Pembuangan uap terjadi, akibat dari kelebihan uap yang tidak dapat digunakan karena mesin produksi sedang dalam masa tunggu ataupun berhenti, sehingga pabrik mengalami kesulitan dalam menghentikan ketel uap yang sedang bekerja.

Nilai optimal penggunaan energi uap terjadi pada periode ke-VIII yaitu sebesar 405.412 kkal/ton tebu dan nilai minimal penggunaan energi uap terjadi pada periode pertama yaitu sebesar 518.386 kkal/ton tebu. Perbedaan nilai konsumsi uap dipengaruhi oleh adanya perbedaan jumlah tebu tergiling, lama giling, dan persentase air imbibisi yang digunakan tiap periode. Semakin banyak jumlah tebu tergiling, maka mesin produksi semakin besar mengonsumsi uap karena proses produksi akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga yang besar. Persentase air imbibisi juga mempengaruhi nilai penggunaan uap, mengingat bahwa uap juga digunakan secara langsung pada proses produksi gula di stasiun penguapan. Semakin besar prosentasi air imbibisi yang ditambahkan di stasiun gilingan, maka semakin besar jumlah air yang harus diuapkan di stasiun penguapan. Keterkaitan jumlah terbu tergiling, lama giling dan jumlah penggunaan air imbibisi terhadap konsumsi uap dapat dilihat pada Gambar 19.

Gambar 19. Grafik Hubungan antara Jumlah Penggunaan Air Imbibisi dengan Konsumsi Uap PG. Tersana Baru Musim giling 2007

R2 = 0,2844 400.000 410.000 420.000 430.000 440.000 21,5 22,0 22,5 23,0 23,5 24,0 24,5 25,0 air imbibisi (%) to ta l ko ns um si ua p (kka l/ ton te bu)

Gambar 19 menjelaskan bahwa semakin banyak air imbibisi yang ditambahkan dalam proses penggilingan, maka konsumsi energi uap akan semakin besar. Hal ini disebabkan, ampas tebu yang dihasilkan untuk proses pembakaran mengandung kadar air yang cukup tinggi, sehingga energi uap yang digunakan untuk membakar ampas tebu akan semakin besar. Perhitungan penggunaan energi uap dapat dilihat pada Lampiran 3.

3. Rendemen

Tujuan utama penanaman tebu adalah untuk memperoleh hasil hablur yang tinggi. Hablur merupakan gula sukrosa yang dikristalkan. Hablur yang dihasilkan mencerminkan rendemen tebu. Dalam prosesnya, rendemen yang dihasilkan oleh tanaman dipengaruhi oleh keadaan tanaman dan proses penggilingan di pabrik. Rendemen yang tinggi dihasilkan dari tanaman yang bermutu baik dan ditebang pada saat yang tepat. Namun sebalik, apapun mutu tebu, jika pabrik sebagai sarana pengolahan tidak baik, hablur yang didapat akan berbeda dengan kandungan sukrosa yang ada di batang. Oleh sebab itu, sering terjadi permasalahan dengan cara penentuan rendemen di pabrik. Rendemen yang diperoleh sangat tergantung dari kandungan sukrosa yang merupakan bagian dari gula total.

Menurut Mubyarto (1984) dalam Laksmana (2007), kadar sukrosa tebu ditentukan dari kematangan tebu. Semakin matang tebu, maka kandungan sukrosa akan semakin tinggi. Tebu yang memiliki kematangan yang optimal adalah tebu yang ditanam selama enambelas bulan dan akan menghasilkan kadar sukrosa sebanyak 14% sampai 15 %. Kandungan sukrosa ini menentukan nilai rendemen tebu sebelum tebu digiling. Rendemen yang terkandung dalam tebu tidak dapat bertahan lebih lama. Menurut Moerdokusumo (1993), apabila tebu terlalu lama didiamkan setelah panen dan tertahan dalam masa tunggu penggilingan, maka kualitas nira dalam tebu akan menurun akibat terjadinya proses respirasi dimana kadar sukrosa yang terkandung dalam tebu terurai dan mengakibatkan kandungan gula menurun.

Rendemen gula ditentukan setelah tebu masuk ke dalam proses penggilingan. Rendemen ini dihitung berdasarkan faktor rendemen (FR) dikalikan dengan nilai nira dari nira perahan pertama (NN NPP). FR dipengaruhi oleh kadar

0 3 6 9 12 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 periode ke- re n d e m e n ( % ) P G. Te rs a na B a ru P G. J a titujuh

nira dalam tebu dan efisiensi teknis pabrik. FR ditetapkan berdasarkan FR minimum sesuai SK Mentan No. 126 tahun 1978. NN NPP merupakan ukuran kualitas nira yang diambil dari gilingan pertama (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. 2005). Pengukuran NPP tidak dapat dilakukan secara akurat, karena NPP yang diambil merupakan NPP campuran dari dua tebu atau lebih sehingga mengakibatkan kualitas tebu yang tergiling tidak diketahui secara tepat.

Pada penelitian Laksmana (2007), rendemen gula yang dihasilkan di PG. Jatitujuh musim giling 2006 mengalami peningkatan. Pada periode pertama rendemen gula sebesar 3,46% dan pada periode kesepuluh rendemen gula jauh meningkat menjadi sebesar 11,52%. Gambar yang menunjukkan perbandingan antara rendemen gula di PG. Tersana Baru musim giling 2007 dengan PG. Jatitujuh musim giling 2006 dapat dilihat pada Gambar 20.

In document SC-T7250D/SC-T5250D/SC-T7250/SC-T5250/SC-T3250 (Page 145-156)