Penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) tahap, yaitu penentuan lokasi bertelur dan analisis lokasi bertelur. Tahap analisis lokasi bertelur dibagi menjadi analisis kondisi lokasi bertelur dan analisis pemahaman masyarakat (Gambar 3).

3.3.1 Penentuan Lokasi Bertelur

Survei pendahuluan dan studi pustaka dilakukan untuk mengetahui gambaran umum lokasi bertelur Maleo senkawor di Kabupaten Mamuju. Selanjutnya metode tersebut dianalisis secara deskriptif. Penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang memberikan gambaran yang secermat mungkin mengenai keadaan suatu individu, gejala atau kelompok tertentu (Walpole, 1992). Lebih lanjut, hal ini akan dianalisis berdasarkan gejala-gejala yang ditimbulkan. Analisis dalam penentuan lokasi bertelur dilakukan secara sengaja atau purposive sampling (Nawawi, 1995). Penentuan lokasi mengacu pada referensi peneliti sebelumnya (Gazi, 2004; Buchart dan Baker, 1999; Mallombasang, 1995). Pada tahap ini, dilakukan inventarisasi ulang lokasi bertelur dan kemungkinan ditemukannya lokasi bertelur baru.

3.3.2 Analisis Kondisi Lokasi Bertelur

a. Penilaian Kriteria Lokasi Bertelur

Pada tahap ini dilakukan inventarisasi pada beberapa komponen yang berperan penting untuk menilai kondisi suatu lokasi bertelur. Metode survei dianalisis secara deskriptif dengan pengamatan langsung dan berdasarkan studi pustaka. Analisis deskriptif dimaksudkan untuk memberikan penjelasan dan uraian berdasarkan data dan informasi yang akan diperoleh selama penelitian. Penilaian terhadap kriteria lokasi bertelur (Tabel 2) yaitu :

a) Dimensi lokasi: luas lokasi bertelur Maleo senkawor;

b) Tipe lokasi: apakah tiap lokasi bertelur merupakan tipe lokasi bertelur tepi pantai atau lokasi bertelur di tengah hutan yang ditentukan berdasarkan karakertistik lokasi bertelur;

c) Jarak dengan jalan terdekat: diukur jarak antara tepi jalan raya dengan titik tengah lokasi bertelur. Pengukuran berdasarkan acuan peta jalan dan dihubungkan dengan penentuan lokasi bertelur dengan bantuan GPS;

d) Jarak terdekat dengan bibir pantai: diukur jarak batas air di bibir pantai dengan titik tengah lokasi bertelur;

e) Jarak terdekat dengan perkampungan: diukur jarak terdekat titik tengah lokasi bertelur dengan permukiman masyarakat;

f) Jarak dengan hutan: diukur jarak terdekat titik tengah lokasi bertelur dengan batas wilayah hutan terdekat. Semua pengukuran dilakukan dengan satuan meter dengan alat GPS;

g) Kondisi vegetasi sekunder: dicatat keberadaan vegetasi sekunder, luas tutupan vegetasi;

h) Kondisi lubang peneluran: dimensi dan jumlah lubang peneluran; i) Kondisi pasir: dicatat jenis pasir yang terdapat di lokasi bertelur;

j) Predator: dihitung apakah terdapat atau tidak pemangsa, jumlah dan jenis pemangsa yang ada di lokasi bertelur;

k) Jumlah pasangan Maleo senkawor yang menggunakan lokasi bertelur: dihitung dengan mengamati secara langsung dari tempat tersembunyi, dari hasil wawancara dengan masyarakat pengumpul telur, atau dari referensi peneliti sebelumnya jumlah pasangan Maleo senkawor yang mendatangi lokasi bertelur;

l) Pengumpulan telur: dihitung ada atau tidaknya aktivitas pengambilan telur oleh masyarakat;

m) Gangguan manusia: ada atau tidaknya aktivitas manusia disekitar lokasi bertelur, bentuk gangguan, serta frekuensi terjadinya gangguan manusia di lokasi bertelur.

Tabel 2 Penilaian Kriteria Lokasi Bertelur

Atribut Kriteria Metode Pengambilan Data

Kondisi fisik 1. Tipe Lokasi 2. Luas Lokasi 3. Tekstur Tanah

4. Jarak dengan Bibir Pantai 5. Kondisi Lubang

1. Pengamatan Lapangan 2. Studi Pustaka

Akses 1. Jarak dengan Hutan 2. Jarak dengan Jalan 3. Jarak dengan Permukiman

1. Pengamatan Lapangan 2. Studi Pustaka Invasi Vegetasi Sekunder 1. Jenis Vegetasi

2. Luas Tutupan Vegetasi

1. Pengamatan Lapangan 2. Studi Pustaka

Gangguan 1. Kehadiran Manusia 2. Bentuk Gangguan 3. Frekuensi Gangguan

1. Pengamatan Lapangan 2. Studi Pustaka

b. Analisis Data Kondisi Lokasi Bertelur

Dalam analisis kondisi lokasi bertelur, dilakukan pendekatan menggunakan metode dari peneliti sebelumnya yang telah dimodifikasi (Gorog dkk, 2005) yaitu metode evaluasi terhadap 4 (empat) atribut dasar untuk menilai lokasi habitat bertelur, teknik kuisioner juga dilakukan dengan berbagai pihak antara lain kepala desa serta pengumpul telur yang berada di sekitar lokasi bertelur Maleo senkawor yang dimodifikasi dari (Christy dan Lentey, 2001). Empat atribut dasar dalam analisis kondisi lokasi bertelur antara lain:

a) Kondisi: kondisi lokasi bertelur yang ditentukan dengan luas lokasi bertelur, tekstur pasir yang ada di lokasi bertelur, kondisi di dalam lubang peneluran serta jarak dengan bibir pantai;

b) Akses: akses menuju lokasi bertelur ditentukan dengan kedekatan antara lokasi bertelur dengan hutan;

c) Invasi Vegetasi Sekunder: ditentukan berdasarkan penutupan lokasi bertelur oleh tanaman semak dan perdu;

d) Gangguan: penilaian ini ditentukan berdasarkan kehadiran manusia di lokasi bertelur, bentuk gangguan, serta frekuensi terjadinya gangguan di lokasi bertelur.

Tahapan selanjutnya dari penelitian ini adalah penentuan derajat kepentingan tiap atribut yang ada. Analisis data lokasi bertelur ditentukan berdasarkan derajat kepentingan atau bobot dari setiap atribut yang telah ditetapkan. Penentuan bobot ini dinilai sangat penting karena akan mempengaruhi nilai total akhir dari setiap pilihan keputusan. Penentuan bobot dilakukan dengan pemberian bobot secara langsung kepada setiap atribut (Ma`arif dan Tanjung, 2003). Penentuan bobot untuk setiap atribut dalam menilai kondisi lokasi bertelur adalah: kondisi fisik (0.30), gangguan (0.30); akses (0.20), dan invasi vegetasi sekunder (0.20). Skor derajat kepentingan diberikan angka 1-4, dimana angka empat (4) menyatakan kondisi baik dan satu (1) menyatakan kondisi buruk.

Faktor-faktor dengan tingkat pengaruh yang terbesar akan menempati urutan teratas dengan memperoleh pembobotan yang terbesar. Faktor-faktor dengan tingkat pengaruh yang rendah atau kecil akan menempati urutan berikutnya. Penjelasan pada tiap-tiap atribut, yaitu kondisi, akses, invasi vegetasi sekunder dan gangguan manusia, pembobotan, dan skor dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Penilaian Kondisi Umum Lokasi Bertelur Maleo Senkawor

Kriteria Kategori

Penilaian Skor Bobot

Atribut

Dasar

Lokasi bertelur tersedia cukup luas (+ 1 km2) dan jarak lokasi dengan bibir pantai cukup jauh > 100 m

Lokasi bertelur memiliki luas 500-1000 m2, dengan jarak bibir pantai 75-100 m

Lokasi bertelur memiliki luas < 500 m2 dengan jarak terdekat dengan bibir pantai < 50 m Lokasi bertelur kecil dan letaknya terpisah-pisah, lokasi sangat dekat dengan bibir pantai Baik Sedang Kurang Tidak Baik 4 3 2 1 0.30 Kondisi Fisik

Sangat sedikit bahkan tidak ada gangguan manusia

Terdapat kehadiran manusia dalam jumlah kecil 1 bulan sekali

Terdapat aktivitas rutin tiap minggu oleh masyarakat dan pengumpul telur Maleo senkawor

Setiap hari lokasi bertelur dikunjungi masyarakat untuk mengambil telur Maleo senkawor dan untuk kepentingan lainnya Tidak Ada Kurang Sering Aktif 4 3 2 1 0.30 Gangguan

Tabel 3 Lanjutan ...

Kriteria Kategori

Penilaian Skor Bobot

Atribut

Dasar

Lokasi bertelur bersih dari tanaman semak dan perdu Lokasi bertelur ditutupi oleh tanaman sekunder dalam jumlah yang sedikit < 50% luas lokasi bertelur

Lokasi bertelur ditutupi oleh tanaman sekunder hingga 75%

Lokasi bertelur tertutup oleh tanaman sekunder sehingga Maleo senkawor tidak dapat menggali lubang peneluran.

Bersih Kurang Sebagian Tertutup Tertutup 4 3 2 1 0.20 Invasi Vegetasi Sekunder

Lokasi bertelur langsung dikelilingi oleh hutan primer > 50% dari pinggiran, yang memungkinkan Maleo senkawor untuk menjangkau

lokasi tersebut tanpa gangguan

Tempat bertelur dikelilingi hutan primer < 50 % dari batas luarnya menghalangi Maleo senkawor dari hutan primer;

Tempat bertelur dikelilingi hutan < 25%, Maleo senkawor hanya memiliki satu jalur akses menuju lokasi bertelur

Tempat bertelur benar-benar terpisah dari hutan primer dan Maleo senkawor tidak dapat menjangkau tempat bertelur tanpa melintasi lahan pertanian, vegetasi sekunder atau gangguan lainnya oleh aktivitas manusia. Bebas Terbatas Terganggu Tak Ada Akses 4 3 2 1 0.20 Akses

Berdasarkan hasil penjumlahan bobot dan skor kemudian diperoleh nilai untuk menentukan kondisi lokasi bertelur Maleo senkawor. Nilai > 3.00 menyatakan kondisi lokasi bertelur baik, nilai 2.01-3.00 menyatakan kondisi lokasi yang sedang, nilai 1.01-2.00 menyatakan kondisi umum lokasi bertelur yang buruk dan nilai 1.00 menyatakan kondisi lokasi bertelur yang sangat buruk.

3.3.3 Analisis Pemahaman Masyarakat

Penelitian pada tahap ini digolongkan ke dalam penelitian deskriptif. Menurut Walpole (1992), penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang memberikan gambaran yang secermat mungkin mengenai keadaan suatu individu, gejala atau kelompok tertentu, dalam hal ini lebih lanjut akan dianalisis berdasarkan gejala-gejala yang ditimbulkan. Analisis pemahaman masyarakat dilakukan secara sengaja atau purposive sampling (Nawawi, 1995). Pada tahap ini, dilakukan evaluasi pada data dasar keberadaan masyarakat berupa data dari kantor administratif setempat. Penentuan responden juga didasarkan pada kedekatan pemukiman penduduk dengan lokasi bertelur yang sebelumnya telah diketahui.

Pengumpulan data melalui wawancara dan kuesioner dilakukan untuk mendapatkan (i) tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi bertelur; (ii) pemahaman masyarakat di sekitar lokasi bertelur terhadap lokasi bertelur Maleo senkawor; dan (iii) sikap dan perilaku masyarakat di lokasi bertelur Maleo senkawor. Penentuan responden dilakukan secara sengaja atau purposive sampling (Nazir, 1999). Koentjaraningrat (1983) memberi batasan ukuran sampel yang diambil untuk penelitian deskriptif minimal 10 persen dari populasi, sedangkan untuk ukuran populasi yang sangat kecil minimal 20 persen.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1 Lokasi Penelitian

Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat terletak di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan atau pada bagian barat dari pulau Sulawesi, yaitu terletak pada posisi : 0o 52` 10`` - 2o 54`52`` Lintang Selatan dan 11o 54`47`` - 13o5`35`` Bujur Timur. Batas wilayah administratif Kabupaten Mamuju adalah; sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, sebelah timur dengan Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Majene, Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat dan Kabupaten Tana Toraja Provinsi Sulawesi Selatan, dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar. Peta lokasi penelitian di Kabupaten Mamuju dapat dilihat pada Gambar 4.

Luas wilayah Kabupaten Mamuju adalah 11.057.81 km2 dan memiliki luas kawasan hutan menurut fungsinya sebesar 849.777 Ha. Dengan perincian hutan lindung 505.156 Ha, hutan produksi 195.615 Ha, hutan produksi tetap 51.250 Ha dan hutan produksi yang dapat dikonversi 97.876 Ha, sedangkan hutan suaka alam pada daerah ini belum ada (Bappeda dan Kantor Statistik Mamuju, 1992).

4.1.2 Tanah dan Geologi

Keadaan tanah di wilayah Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat umumnya berasal dari endapan dan pasir, sedangkan jenis tanahnya adalah tanah-tanah aluvial coklat kekelabuan (Bappeda dan Kantor Statistik Mamuju, 1992).

4.1.3 Iklim

Berdasarkan klasifikasi curah hujan oleh Schmidt dan Ferguson (Mallombasang, 1995), Kabupaten Mamuju termasuk dalam tipe E dengan nilai Q = 125 %, dengan rata-rata curah hujan setiap tahun berkisar antara 34 mm sampai 375 mm (Bappeda dan Kantor Statistik Mamuju, 1992).

Gambar 4 Peta Penyebaran Lokasi Bertelur Maleo Senkawor di Kabupaten Mamuju

4.1.4 Flora dan Fauna

a) Flora

Secara umum vegetasi hutan di Kabupaten Mamuju termasuk tipe hutan hujan tropis dataran rendah dan pada umumnya dijumpai jenis-jenis pohon antara lain Diospirus sp, Kemiri (Aleurites moluccana), Dracontomelon mangiferum, Instia bijuga, Alstonia sp. Rhizophora sp, Bruguiera sp, Ficus sp, dan sebagainya. Vegetasi berupa semak didominasi oleh Lantana camara dan Alang-alang (Imperata cilindrica) (Whitten dkk., 1987).

b) Fauna

Menurut Whitten, dkk (1987) jenis-jenis fauna yang dijumpai di daerah ini antara lain : Dare (Macaca maura), Mandar Sulawesi (Aramidopsis plateni), Nuri (Tanygnathus megalorhynchus), Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi), Rangkong (Rhyticeros cassidix), jenis-jenis Kuntul dan Maleo senkawor (Macrocephalon Maleo senkawor).

4.1.5 Lokasi Bertelur Maleo senkawor di Kabupaten Mamuju

Maleo senkawor tersebar dan bertelur pada beberapa tempat di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Berdasarkan hasil penelitian setidaknya terdapat 23 lokasi bertelur Maleo senkawor di Kabupaten Mamuju. Lokasi bertelur digunakan Maleo senkawor untuk membuat lubang dan meletakkan telur. Di Kabupaten Mamuju terdapat 18 lokasi bertelur yang masih aktif digunakan Maleo senkawor, 2 (dua) lokasi bertelur yang telah ditinggalkan oleh Maleo senkawor, dan 3 (tiga) lokasi bertelur yang tidak diketahui statusnya (Tabel 4). Tipe lokasi bertelur di Kabupaten Mamuju umumnya merupakan lokasi bertelur pesisir pantai yakni sebanyak 17 lokasi bertelur dan hanya 1 (satu) lokasi bertelur yang merupakan lokasi bertelur di dalam hutan, yaitu terdapat di lokasi bertelur Tobinta.

Tabel 4 Lokasi Bertelur Maleo Senkawor di Kabupaten Mamuju

No Lokasi bertelur Koordinat Status

1 Tobinta 01o57’53.3”S 119o19’44.3”E Aktif 2 Lelo losso 01o57’47.4”S 119o16’23.9”E Aktif 3 Tambung Tangnga 01o57’05.7”S 119o16’42.9”E Aktif 4 Tikke 01o20’58.4”S 119o19’55.5”E Ditinggalkan 5 Terbao 01o01’22.3”S 119o28’22.7”E Ditinggalkan 6 Koloe 01o21’44.4”S 119o19’21.6”E Aktif 7 Lemo 01o22’13.8”S 119o18’41.7”E Aktif 8 Pambua 00o52’50.3”S 119o32’07.3”E Aktif 9 Bambamata 00o59’54.3”S 119o28’52.7”E Aktif 10 Kasoloang 01o00’33.6”S 119o28’40.7”E Aktif 11 Randomayang 01o03’15.8”S 119o28’12.0”E Aktif 12 Kayumoloa 01o05’47.1”S 119o26’46.8”E Aktif 13 Tanjung Tambue 01o09’37.6”S 119o22’48.7”E Aktif 14 Padongga 01o17’27.5”S 119o18’53.3”E Aktif 15 Belang-belang 02o27’51.2”S 119o07’38.2”E Aktif 16 Barang-barang 02o28’59.5”S 119o06’51.9”E Aktif 17 Malasigo 02o28’57.6”S 119o07’07.6”E Aktif 18 Tambung 02o34’44.7”S 119o01’58.5”E Aktif 19 Tapanduli 02o40’20.6”S 118o47’20.3”E Aktif 20 Udung Butung 02o48’02.6”S 118o45’43.0”E Aktif 21 Lariang 01o25’S 119o17’E Status tidak diketahui

22 Tanjung Dapuran 01o45’S 119o20’E Status tidak diketahui 23 Mamuju 02o40’S 118o55’E Status tidak diketahui

a. Penemuan Lokasi Bertelur Baru

Dari 23 lokasi bertelur yang dilakukan inventarisasi, ditemukan 8 (delapan) lokasi bertelur aktif baru ditemukan, dan belum pernah disebutkan sebelumnya. Lokasi tersebut adalah Tobinta, Lelo Losso, Tambung Tangnga, Barang-barang, Malasigo, Tambung, Tapanduli dan Udung Butung (Gambar 4). Penemuan lokasi bertelur tersebut berdasarkan penelusuran informasi dari berbagai sumber antara lain penduduk lokal, dan aparat pemerintahan terkait.

b. Lokasi Bertelur Aktif

Suatu lokasi bertelur dikatakan sebagai lokasi aktif digunakan Maleo senkawor selama atau jika lokasi bertelur tersebut secara simultan dikunjungi Maleo senkawor untuk bertelur. Berdasarkan hasil penelusuran lapangan terhadap lokasi bertelur yang terdapat di Kabupaten Mamuju, terdapat 18 lokasi aktif yang digunakan oleh Maleo senkawor.

Status aktif diberikan pada suatu lokasi berdasarkan beberapa penilaian yaitu melalui pertama; referensi peneliti sebelumnya, kedua; pertemuan penduduk lokal dengan Maleo senkawor ataupun aktivitas pengumpulan telur di lokasi bertelur yang informasi tersebut diperoleh dari penyebaran kuesioner, ketiga; melalui bukti fisik yang ditinggalkan Maleo senkawor di lokasi bertelur seperti guguran bulu, jejak kaki yang masih segar, bongkahan pasir galian yang menandakan penggalian yang belum begitu lama terjadi, kondisi areal peneluran yang masih bersih dari kotoran dedaunan yang terbawa angin. Selanjutnya, berdasarkan uji lapang kemudian ditetapkan suatu lokasi bertelur masih aktif digunakan Maleo senkawor untuk meletakkan telur. Gambaran mengenai lokasi bertelur yang aktif digunakan oleh Maleo senkawor disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5 Lokasi Bertelur Aktif yang Digunakan oleh Maleo Senkawor

c. Lokasi Bertelur yang Telah Ditinggalkan

Lokasi bertelur yang dinyatakan sebagai lokasi bertelur yang telah tidak aktif atau telah ditinggalkan oleh Maleo senkawor ditetapkan berdasarkan 3 (tiga) pendekatan yaitu, pertama; referensi dari peneliti sebelumnya, kedua; informasi dari penduduk terdekat dengan lokasi bertelur melalui kuesioner, ketiga; melalui bukti fisik yang tersisa di lokasi bertelur. Hasil gambaran di lokasi bertelur Maleo senkawor menunjukkan bahwa, lokasi bertelur yang telah ditinggalkan umumnya merupakan lokasi yang telah terinvasi oleh tanaman sekunder, lokasi bertelur telah berganti fungsi sebagai lahan yang telah dikelola oleh manusia. Kondisi tersebut tidak memberikan ruang dan waktu untuk Maleo senkawor agar dapat menjalankan aktfitas bertelur Maleo senkawor dengan baik.

Lokasi bertelur yang telah ditinggalkan oleh Maleo senkawor sebagai tempat bertelur adalah Tikke dan Terbao. Kondisi terakhir di daerah tersebut, merupakan kawasan pesisir pantai yang telah menjadi hunian penduduk, daerah yang dulunya diperkirakan sebagai hutan mangrove, sekarang telah dikonversi dan dikelola penduduk desa menjadi petak-petak tambak (Gambar 6).

Gambar 6 Lokasi Bertelur yang Telah Ditinggalkan oleh Maleo Senkawor

d. Lokasi Bertelur yang Statusnya Tidak Diketahui

Hasil inventarisasi lokasi bertelur di Kabupaten Mamuju menunjukkan, bahwa 3 (tiga) lokasi bertelur yang informasinya diperoleh dari peneliti sebelumnya, yaitu Tanjung Dapuran, Lariang, dan Mamuju tidak dapat ditemukan titik tepat lokasi tempat Maleo senkawor meletakkan telur. Tanjung Dapuran tidak dapat diakses dikarenakan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Lariang merupakan nama suatu daerah yang dibelah oleh sungai besar dimana menurut beberapa narasumber, sempadan sungai tersebut dahulu digunakan oleh Maleo senkawor untuk bertelur. Saat ini aktivitas penambangan pasir sungai aktif dilakukan dan sudah tidak ada jejak lokasi bertelur Maleo senkawor di daerah tersebut.

Mamuju merupakan Ibu kota Provinsi Sulawesi Barat yang sudah ramai dengan pelbagai aktivitas manusia. Berdasarkan informasi dari penduduk kota Mamuju dahulu memang terdapat beberapa titik tempat Maleo senkawor bertelur, namun saat ini telah menjadi hunian padat atau dijadikan tempat pusat kegiatan ekonomi kota sehingga lokasi tersebut sudah sangat tidak layak disebut sebagai lokasi bertelur Maleo senkawor.

e. Pengelompokan Lokasi Bertelur Berdasarkan Karakteristik

Wilayah

Hasil penelitian di 18 lokasi aktif yang digunakan Maleo senkawor untuk bertelur menunjukkan, bahwa lokasi bertelur Maleo senkawor memiliki karakteristik yang cukup beragam mulai dari letak areal peneluran di pantai hingga vegetasi hutan yang menjadi koridor penghubung bagi Maleo senkawor menuju lokasi bertelur (Gambar 7).

Gambar 7 Peta Pengelompokan Lokasi Bertelur Berdasarkan Karakteristik Wilayah

1. Lokasi Bertelur dengan Tanggul Pelindung

Lokasi bertelur memiliki karakteristik semacam tanggul yang letaknya antara 20 hingga 30 meter dari lokasi bertelur. Lokasi bertelur lebih aman dari jangkauan gelombang pasang dikarenakan adanya tanggul pelindung alami sehingga lokasi bertelur tidak bersentuhan langsung dengan laut lepas. (Gambar 8).

Gambar 8 Lokasi Bertelur dengan Tanggul Pelindung

Lokasi bertelur dapat dengan mudah dibedakan dibandingkan daerah berpasir lainnya karena adanya semacam kubangan-kubangan yang merupakan lubang yang telah turun temurun digunakan oleh Maleo senkawor (Lampiran 6). Masyarakat yang mengambil hasil laut pada saat air surut acap kali menyaksikan Maleo senkawor bertelur dan selanjutnya mengintai dari kejauhan untuk menunggu proses bertelur selesai dan mengambil telur Maleo senkawor. Masyarakat dapat mencapai menuju lokasi bertelur dari dua arah, yaitu dari hamparan pantai pasang surut dan dengan melewati hutan. Tipe pantai dengan keadaan alam seperti ini tidak umum tersedia dan hanya terdapat di 2 (dua) lokasi bertelur, yaitu di Barang-barang dan Udung Butung.

2. Lokasi Bertelur dengan Vegetasi Mangrove

Lokasi bertelur dengan vegetasi mangrove merupakan suatu areal tepi pantai yang berhadapan dengan laut lepas. Lapangan peneluran posisinya lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Hal yang membedakan dibandingkan tipe lokasi bertelur lainnya adalah terdapat hutan mangrove yang selalu terisi air pada saat keadaan pasang.

Maleo senkawor yang menggunakan lokasi bertelur dengan tipe seperti ini harus melewati hutan mangrove terlebih dahulu. Lokasi bertelur dengan vegetasi mangrove letaknya cukup jauh dari permukiman penduduk, akses manusia menuju lokasi bertelur hanya dapat ditempuh dengan menggunakan sampan. Sistem perakaran pohon bakau sangat sulit dilalui dan berlumpur, hal tersebut menyebabkan akses darat melalui hutan bakau yang sulit dilalui.

Terdapat 3 (tiga) lokasi yang memiliki tipe dengan vegetasi mangrove sebagai hutan penghubung bagi Maleo senkawor dari hutan primer menuju lokasi bertelur. Lokasi tersebut adalah Lelo Losso, Tambung dan Padongga yang secara lengkap tersaji pada Gambar 9.

Gambar 9 Lokasi Bertelur dengan Vegetasi Mangrove

3. Lokasi Bertelur dengan Vegetasi Hutan Landai Dataran Rendah

Topografi wilayah yang rata dan landai merupakan kondisi umum wilayah pantai yang ada di Kabupaten Mamuju. Lokasi bertelur dengan kondisi demikian ini paling banyak dijumpai selama penelitian. Karakteristik lokasi bertelur tersebut ditandai dengan lapangan peneluran yang lebar, lokasi bertelur berada di tepi pantai yang secara langsung berbatasan laut lepas tanpa sekat apapun seperti halnya tanggul pelindung. Meskipun lokasi bertelur langsung berhadapan dengan lautan lepas, tetapi dengan kondisi lokasi bertelur yang tersedia cukup lebar, maka hal ini akan menjamin lokasi bertelur aman dari pengaruh pasang surut air laut.

Lubang-lubang tempat Maleo senkawor meletakkan telurnya berada di lapangan terbuka yang bebas dari naungan. Lubang galian sangat mudah dikenali oleh karena keadaannya yang bersih dari semak rendah. Lubang bertelur dapat berjumlah lebih dari satu hingga memiliki bentuk seperti kubangan pasir, ataupun dapat terpisah satu dengan yang lainnya dalam kawasan yang cukup luas.

Terdapat 7 (tujuh) lokasi bertelur dengan karakteristik hutan dataran rendah yang keadaannya landai, yaitu Koloe, Lemo, Pambua, Bambamata, Kasoloang, Tanjung Tambue, dan Belang-belang. Lokasi bertelur yang landai seperti ini tersebar di bagian utara Kabupaten Mamuju di mana di bagian wilayah tersebut kondisi alam lebih rata dengan sedikit daerah berbukit. Secara rinci, gambaran mengenai lokasi bertelur dengan karakteristik vegetasi hutan landai dataran rendah disajikan pada Gambar 10.

Gambar 10 Lokasi Bertelur dengan Vegetasi Hutan Landai Dataran Rendah

4. Lokasi Bertelur dengan Vegetasi Hutan Berbukit

Lokasi bertelur dengan kondisi alam hutan berbukit terdapat di bagian selatan Kabupaten Mamuju. Dua lokasi bertelur yang memiliki karakteristik tersebut adalah lokasi bertelur di Tapanduli dan Udung butung. Lapangan peneluran yang tersedia tidak terlalu luas dan letak lubang terpisah satu dengan lainnya. Lokasi bertelur umumnya berada di bawah naungan pepohonan yang tajuknya cukup jarang ataupun pohon kelapa dan semak. Maleo senkawor dapat menjangkau lokasi bertelur langsung dari kawasan hutan berbukit.

Menurut informasi penduduk lokal mengatakan, bahwa mereka beberapa kali mendapati Maleo senkawor terbang meluncur dari pepohonan di perbukitan menuju pepohonan yang lebih rendah di sekitar lokasi bertelur. Deskripsi mengenai lokasi bertelur yang berbatasan dengan hutan berbukit dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11 Lokasi Bertelur dengan Vegetasi Hutan Berbukit

5. Lokasi Bertelur di Dalam Perkebunan Perseorangan

Perkebunan masyarakat yang kebanyakan menanam pohon kelapa sebagai komoditas andalan banyak terdapat di Kabupaten Mamuju. Kepemilikan lahan ini kebanyakan dikuasai secara perseorangan sehingga terdapat banyak petakan-petakan pagar hidup di antara kebun kelapa. Kebun kelapa yang berada di tepi pantai berpasir juga digunakan Maleo senkawor untuk bertelur, biasanya Maleo senkawor memilih perkebunan kelapa yang jarang dikunjungi pemiliknya seperti yang terdapat di lokasi bertelur Tapanduli, Kayumaloa, dan Malasigo. Lokasi bertelur di Randomayang merupakan lahan pertanian yang sepertinya belum lama dikelola oleh penduduk lokal, hal ini di tandai dengan tanaman yang terlihat baru di tanam.

Pada dasarnya bukanlah Maleo senkawor yang memilih untuk

In document Cisco Edge Craft ソフトウェア ガイド Software Release 2.0 (Page 196-200)