L- J Characteristics of OLEDs

V- 283 (1B)-3-4 A-COE2012 における研究動向調査

Kalian mungkin pernah mendengar pertengkaran atau tawuran antarmurid sekolah. Kadang karena sesuatu hal yang sepele, seseorang kehilangan nyawanya. Kalian tahu mengapa semua itu bisa terjadi? Perbuatan itu terjadi karena adanya sifat marah dan sakit hati terhadap seseorang. Kalian mungkin juga pernah merasa marah karena perlakuan teman. Bahkan kalian mungkin pernah berpikir untuk membalas rasa sakit hati tersebut. Bila sudah timbul keinginan untuk balas dendam, berarti kalian sudah terhasut oleh bujuk rayu setan. Perbuatan membalas dendam itu termasuk perbuatan yang tercela.

Mungkin mereka yang melakukan tawuran beralasan bahwa yang mereka lakukan itu adalah bentuk kesetiakawanan terhadap teman. Namun perbuatan itu sangatlah keliru. Kita boleh menolong saudara dan teman kita hanya sebatas pada hal kebaikan. Apabila perbuatan itu menimbulkan kerugian atau kejahatan, maka kita tidak boleh membantunya. Lalu, bagaimana kita menghindari pertengkaran dan menjauhi sikap permusuhan terhadap orang lain?

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk bersabar dalam menghadapi semua persoalan. Kita juga diajari untuk berbuat baik terhadap sesama muslim. Yakni dengan tolong menolong dalam kebaikan. Hal ini telah ditunjukkan oleh para sahabat Rasulullah saw. ketika hijrah dari Mekah ke Madinah. Hari itu, Jumat, 24 September 622 Masehi bertepatan dengan tanggal 12 Rabiulawal.

Ketika, seorang Yahudi yang sedang berada di atas atap rumahnya berteriak-teriak, “Hai! itu teman yang kalian tunggu datang!”

Kaum muslimin Yatsrib yang sedang menunggu kedatangan Nabi menoleh ke arah suara teriakan. Orang Yahudi itu menunjuk-nunjuk ke arah lembah di kejauhan.

“Itu orang yang kalian tunggu bukan?!” kembali orang Yahudi itu berteriak. Tangannya terus saja menunjuk ke arah lembah. Orang-orang mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk si Yahudi. Dari kejauhan, tampak titik-titik hitam bergerak mendekat. Titik-titik itu makin lama makin membesar. Terus membesar, hingga benar-benar jelas bahwa itu adalah rombongan yang datang dari Quba. Itulah Nabi beserta para sahabatnya.

Penduduk Yatsrib yang sudah berhari-hari menunggu itu sontak berteriak, “Nabi Muhammad sudah datang! Nabi Muhammad sudah datang!”

Semua orang berhamburan ke pinggir jalan yang akan dilewati Nabi. Mereka membawa apa saja untuk menyambut kedatangan Nabi. Ada yang membawa rebana dan memukulnya keras-keras. Ada yang membawa pelepah kurma, lalu mengibar-ngibarkannya seperti selembar bendera. Ada juga yang menyanyikan syair puji-pujian yang ditujukan kepada Nabi. Yang jelas, semua penduduk Yatsrib larut dalam kebahagiaan.

Meneladani Kisah Ansar dan Muhajirin

9 9

9 9

Nabi yang terangguk-angguk di punggung untanya sangat bahagia melihat sambutan penduduk Yatsrib yang luar biasa. Ia terharu. Baru kali ini ia merasakan sambutan yang begitu hangat. Di Mekah, kampung halamannya sendiri, tidak pernah ia merasakan sambutan seperti ini. Selama 13 tahun mendakwahkan Islam di Mekah, yang didapat adalah hinaan dan caci-maki, bahkan ancaman pembunuhan.

Nabi yang tampak lelah di punggung untanya menebarkan senyum kepada semua penduduk Yatsrib. Untanya berjalan pelan menyibak kerumunan yang menyambutnya.

“Mampirlah ke rumah kami, ya Nabi!” teriak seorang penduduk, memohon.

“Singgah di rumah kami saja, Nabi,” yang lain ikut memohon. “Tinggallah di tempat kami,” pinta yang lain.

Hampir semua penduduk menawarkan tempat tinggal untuk Nabi. Beberapa sahabat bahkan menawarkan rumah dan harta mereka untuk menjadi milik Nabi. Namun, dengan halus Nabi menolak semua tawaran tersebut. Jika menerima tawaran seseorang, Nabi khawatir mengecewakan yang lain. Karena itu, Nabi lebih memilih mengikuti untanya.

“Aku akan tinggal di mana untaku berhenti,” demikian kata Nabi.

Unta itu terus berjalan pelan. Unta yang diberi nama Qoswa itu kemudian berhenti di sebuah tanah kosong, lalu menderum. Nabi mengerti apa yang diinginkan Qoswa. Ia pun turun dari punggung Qoswa.

“Aku akan tinggal di sini!” Demikian Nabi mengumumkan kepada penduduk Yatsrib.

Nabi menanyakan siapa pemilik tanah kosong tersebut. Pemiliknya ternyata adalah dua anak yatim bernama Sahal dan Suhail. Sahal

dan Suhail sebenarnya ingin memberikan tanah tersebut kepada Nabi secara

cuma-cuma. Namun, Nabi menolaknya dan memilih untuk membelinya saja. Maka terjadilah tawar-menawar. Setelah harga disepakati, maka tanah itu resmi menjadi milik Nabi.

Setelah tanah tersebut resmi menjadi miliknya, Nabi mengajak segenap kaum muslimin untuk membangun masjid di situ. Masjid itu pun diberi nama Masjid Nabawi. Artinya, masjid Nabi. Karena Nabi belum memiliki rumah tinggal, di samping masjid dibangun rumah sederhana untuk tempat tinggal Nabi dan keluarganya. Selama masjid dan rumah dibangun, Nabi menumpang di rumah Abu Ayub al-Ansari, seorang penduduk Yatsrib. Rumah Abu Ayub dipilih karena paling dekat dengan masjid yang sedang dibangun.

Setelah hijrah, nama Yatsrib berubah menjadi Madinah. Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, karena halangan dan rintangan dakwah di Mekah semakin besar. Halangan dan rintangan itu membahayakan diri Nabi dan pengikutnya. Selain itu juga karena adanya perintah Allah swt. untuk melakukan hijrah menuju Madinah.

Dakwah yang dilakukan Nabi di Mekah tidak memperoleh hasil yang memuaskan. Bahkan permusuhan penduduk Mekah makin sengit. Ancaman pembunuhan tidak hanya diterima oleh Nabi, tetapi juga para sahabatnya. Karena itu, Nabi memerintahkan semua sahabatnya hijrah ke Madinah. Para sahabat yang ikut serta berhijrah inilah

yang dikenal sebagai Muhajirin. Muhajirin artinya adalah ‘orang-orang yang berhijrah’. Adapun para sahabat di Madinah yang menerima kedatangan Nabi dan rombongannya disebut Ansar, yang berarti ‘penolong’.

Kuis

Jelaskan pengertian Muhajirin dan Ansar.

Artinya: Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. al-.Hasyr

[59]: 9)

Ayat di atas menggambarkan persaudaraan yang terjadi antara kaum Muhajirin dan Ansar. Masing-masing penduduk yang sebelumnya tidak saling kenal dan berasal dari suku yang berbeda, kemudian menjadi saudara. Tidak saja seagama, tetapi juga ibarat saudara senasab. Kaum Muhajirin mencintai saudaranya yang berasal dari kalangan Ansar. Begitu juga kaum Ansar sangat menyayangi saudara barunya dari kalangan Muhajirin. Mereka hidup bersama, saling menolong satu sama lain.

Dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa tidak ada perasaan iri hati dari kaum Ansar terhadap kaum Muhajirin. Bahkan mereka rela mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya

sendiri. Persaudaraan antara Muhajirin dan Ansar membuat kehidupan di Madinah menjadi tenteram. Sikap mereka yang saling menolong membuat agama Islam berkembang dengan pesat.

ドキュメント内 有機EL の進展 ソニー 11イン チ テ レ ビ LG 1 5イ ン チ テ レ ビ 10 コ ダ ック フ ォ トフレ ー ム 7. 6イ ン チ 8 ソニー 携 帯情報 端 末 サ ムスン ス マ ートフォ ン 4イン チ 6 4 サ ムスン サ ム ス ン タ ッ チ ス ク リー ン 3イ (Page 128-137)