Pulse Width Modulation (PWM) Interface 注

In document AM571x Sitaraプロセッサシリコン・リビジョン2.0 datasheet (Rev. G) (Page 125-131)

4.3 Multiplexing Characteristics

4.4.23 Pulse Width Modulation (PWM) Interface 注

bidang perubahan (perimeters of change) dan mengkaitkan perubahan (a ribu ng change) terhadap variabel penyebab tertentu atau satu set variabel harus ditangani dengan keha - ha an. Dalam banyak hal, kemajuan perubahan sosial (the state of the art of social change endeavors) dak cukup canggih secara

metodologis untuk membedakan dengan jelas antara sebab, keharusan, kecukupan, atau kondisi-kondisi kontribu f untuk menghasilkan efek-efek yang diinginkan di dalam masyarakat. Perubahan sosial adalah fenomena yang kompleks dan bermuka banyak (mul facet) yang dibawa oleh kekuatan sosial tertentu. Kadang-kadang, perubahan sangatlah lambat, dak imbang dan dapat dikondisikan oleh faktor-faktor yang berlainan dengan derajat yang berbeda-beda. Dari faktor-faktor ini, yang paling dras s adalah revolusi, yang ditujukan kepada perubahan fundamental dalam hubungan kekuasaan antar kelas di dalam masyarakat. Faktor-faktor lainnya mencakup pemberontakan, kerusuhan (riot), coup d’etat, berbagai bentuk gerakan protes, duduk-duduk (sit-ins), boikot, pemogokan, demonstrasi, gerakan sosial, pendidikan, media massa, inovasi teknologi, ideologi, dan berbagai bentuk usaha-usaha perubahan sosial yang terencana namun nonlegal yang berhubungan dengan berbagai perilaku dan praktek pada berbagai level di dalam masyarakat.

Dibandingkan dengan da ar dak lengkap dari kekuatan- kekuatan yang menghasilkan perubahan, hukum mempunyai keuntungan-keuntungan tertentu. Usaha-usaha perubahan melalui hukum cenderung untuk lebih fokus dan spesifi k. Perubahan melalui hukum bersifat detail (deliberate), rasional, dan usaha-usaha yang disadari untuk mengubah perilaku atau praktek tertentu. Maksud dari norma-norma hukum telah dinyatakan dengan jelas dengan garis besar yang jelas tentang cara-cara implementasi dan penegakan serta sanksi-sanksi yang ada. Pada dasarnya, perubahan melalui hukum ditujukan untuk memperkuat, meningkatkan, menambah (ameliora ng), atau mengontrol perilaku dan praktek dalam situasi sosial yang didefi nisikan dengan jelas – seper yang telah diungkapkan oleh pihak yang pro (proponents) dengan suatu perubahan tertentu. Keuntungan hukum sebagai suatu instrumen perubahan sosial disebabkan oleh fakta bahwa hukum di dalam masyarakat dipandang sebagai legi mate, kurang lebih rasional, berwenang (authorita ve), terlembagakan (ins tu onalized), umumnya

dak mengganggu (generallly not disrup ve), dan didukung oleh mekanisme-mekanisme penegakan dan sanksi-sanksi.

Perlakuan klasik terhadap otoritas legi mate disampaikan oleh Max Weber (1947). Weber mendefi nisikan, “koordinasi keharusan“ (impera ve coordina on) sebagai probabilitas bahwa perintah tertentu dari suatu sumber tertentu akan dipatuhi oleh kelompok atau perorangan tertentu. Kepatuhan terhadap perintah dapat terletak pada berbagai per mbangan, dari pesona sederhana (simple habitua on) sampai kalkulasi keuntungan yang benar-benar rasional. Namun ada suatu penyerahan tanpa syarat minimun yang berdasarkan kepada interest dalam kepatuhan. Kepatuhan terhadap otoritas / pihak yang berwenang dapat didasarkan kepada adat (custom), ikatan-ikatan ketertarikan (aff ectual es), atau kepada interest material yang kompleks, atau oleh yang disebut Weber sebagai “mo f-mo f ideal“. Interest yang sepenuhnya material ini akan menghasilkan situasi yang dak stabil, dan oleh karena itu harus diimbangi (must be supplemented) dengan elemen-elemen lainnya, baik yang afektual / ketertarikan sementara ataupun yang ideal. Namun bahkan mo f yang sangat kompleks ini dak membentuk suatu dasar yang cukup handal untuk sistem kerjasama impera f, sehingga elemen pen ng lainnya harus ditambahkan, yaitu kepercayaan terhadap legi masi.

Mengiku Max Weber, ada 3 pe oto tas legi mate, yaitu : tradisional, karisma k, dan rasional-legal. Otoritas tradisional

mendasarkan klaimnya atas legi masi terhadap kepercayaan yang ada terhadap kesucian tradisi dan legi masi terhadap status dari orang yang melaksanakan otoritas. Kewajiban kepatuhan

dak melulu hanya penerimaan terhadap legalitas dari suatu perintah impersonal, namun lebih kepada masalah kese aan personal. “Aturan-aturan yang dituakan“ (rules of elders) adalah gambaran dari otoritas tradisional. Otoritas karisma k

(charisma c authority) mendasarkan klaimnya tentang legi masi pada penyerahan diri terhadap kesucian yang spesifi k dan luar biasa, heroisme, atau karakter khusus (exemplary character) dari seorang individu dan pola-pola norma f yang dikatakan atau diakui (revealed or ordained). Pemimpin karisma k dipatuhi oleh kebaikan dari kepercayaan pribadinya (virtue of personal trust) dan terhadap pengakuannya (his or her revela on), atau

terhadap kualitasnya yang luar biasa (his or her exemplary quali es). Gambaran dari individual dengan otoritas karisma k termasuk Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad, atau Mahatma Ghandi.

Otoritas rasional-legal (ra onal-legal authority) mendasarkan klaimnya kepada legi masi atau kepercayaan terhadap legalitas aturan-aturan norma f dan kepada hak- hak orang yang diangkat sebagai otoritas untuk mengeluarkan perintah di bawah aturan-aturan tertentu. Dalam otoritas seper itu, kepatuhan (obedience) ditujukan kepada perintah impersonal yang dilegalkan. Individu-individu yang melaksanakan otoritas dari suatu jabatan ditunjukkan kepatuhan hanya melalui perintahnya yang legal-formal, dan di dalam ruang lingkup otoritas jabatannya. Otoritas legal dak secara konsep berbeda dengan otoritas tradisional, walaupun perbedaannya sudah pas ada. Dalam masyarakat modern, “legalitas“ merupakan komponen rasionalitas yang dak dipunyai oleh otoritas tradisional. Namun, dalam transisi menuju modernitas, khususnya pada abad ke-16 dan ke-17, otoritas semakin cenderung kepada rasionalisasi dari is lah-is lah legalis k dan kesukarelaan (voluntaris c). Orang “rasional“ “secara sukarela“ membuat suatu “kontrak“, yang membuat perintah legal impersonal (impersonal legal order).

5. Kekuatan Mengikat dari Hukum

Ada beberapa alasan mengapa hukum itu mengikat. Dari suatu pernyataan bahwa hukum diambil dari alam untuk dipercayai bahwa hukum dihasilkan dari konsensus dari subjek- subjeknya yang mengikat. Jawaban yang segera dan sederhana adalah bahwa hukum itu mengikat karena kebanyakan orang di dalam masyarakat memandangnya demikian. Kemenger an dan kesadaran terhadap hukum (the awareness and consciousness of law) oleh kebanyakan orang berfungsi sebagai dasar bagi eksistensinya. Orang biasanya menyerahkan perilakunya kepada regulasi-regulasi, walaupun mereka mempunyai banyak alasan yang berbeda mengapa mereka demikian. Beberapa orang mungkin percaya bahwa dengan mematuhi hukum, mereka mematuhi otoritas ter nggi dari hukum, yaitu : Tuhan, alam,

atau kemauan masyarakat (Negley, 1965).

Orang lainnya mengakui bahwa isi dari hukum adalah memerintahkan kepatuhan, yang pada gilirannya, dipandang sebagai suatu kewajiban (Ladd, 1970). Hukum mencapai klaim terhadap kepatuhannya, dan sekurangnya sebagian dari kekuasaan kewajiban moralnya, dari suatu pengakuan sederhana yang diterimanya dari hukum, atau dari sebagian besar orang, kepada siapa hukum dimaksudkan untuk diterapkan. Pengakuan ini datang sebagai hasil dari kombinasi faktor-faktor, yang dak mungkin untuk disebutkan secara tepat. Dapat dibantah bahwa selain kepatuhan yang meluas dan adanya lembaga-lembaga yang menyarankan kepatuhan itu, selain untuk mendefi nisikan dan menerapkan hukum, hal-hal lainnya (other ingredients) biasanya ada dan pen ng. Antara lain, termasuk kepercayaan bahwa hukum tertentu adalah benar, atau bahwa rejim yang mendukungnya adalah baik dan harus didukung. Ada yang hampir yakin untuk memasukkan juga pengetahuan bahwa sebagian besar orang mematuhi hukum dan mengakuinya karena mempunyai klaim yang benar secara moral tentang perilaku mereka, atau sekurang-kurangnya, bahwa mereka berperilaku seolah-olah mereka merasa harus berperilaku seper itu.

Bahkan ke ka hukum bertentangan dengan moralitas yang diterima, mereka seringkali dipatuhi. Pemusnahan lebih daripada 6 juta orang Yahudi di masa Nazi Jerman, adalah contoh yang paling ekstrim dari ndakan amoral yang diakui legal, yang dilaksanakan oleh ribuan orang atas nama kepatuhan terhadap hukum. Stanley Milgram (1975: xii) mengatakan bahwa esensi kepatuhan terletak pada fakta bahwa individu-individu merasa diri mereka sendiri pen ng untuk mengimplementasikan keinginan orang-orang lainnya, dan mereka dak lagi memandang diri mereka sendiri bertanggung jawab terhadap ndakannya. Dalam banyak kejadian, penerimaan terhadap otoritas akan menghasilkan kepatuhan. Sebagai contoh, Milgram, yang tertarik dengan fenomena kepatuhan dan otoritas, telah menunjukkan bahwa orang-orang dari latar belakang yang sangat berbeda akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh moral kepada orang-orang lainnya jika mereka diperintah oleh otoritas yang

berwenang. Di bawah penyamaran pelaksanaan percobaan tentang “efek-efek hukuman terhadap memori“, ia menemukan bahwa sekitar 2/3 dari subjek laboratoriumnya akan berperilaku dengan sukarela dengan cara yang mereka percaya akan menyakitkan atau merugikan orang lainnya. Walaupun “korban“ menjerit kesakitan, terkena sakit jantung, dan mengemis untuk penghen an percobaan, kebanyakan orang akan terus mematuhi otoritas dan memberikan apa yang mereka percayai sebagai kejutan listrik bertenaga besar (Milgram, 1975). Peneli an ini, selain menunjukkan bahwa kebanyakan orang di bawah kondisi tertentu akan melakukan apa saja walaupun melanggar norma- norma moralnya sendiri dan menyebabkan kesakitan terhadap orang yang lainnya, menggarisbawahi bahwa kebanyakan orang akan menyerahkan diri kepada otoritas, dan begitu pula kepada hukum.

Salah satu alasan untuk kekuatan pengikat dari hukum adalah karena orang lebih suka keteraturan (order) daripada ke dakteraturan (disorder). Individu-individu adalah makhluk kebiasaan karena cara hidup kebiasaannya memerlukan usaha yang kurang pribadi daripada yang lainnya dan memenuhi perasaan akan keamanan. Kepatuhan terhadap hukum menjamin hal itu. Ada gunanya juga untuk mematuhi hukum, karena menghemat usaha dan resiko, suatu mo vasi yang cukup untuk menghasilkan kepatuhan. Kepatuhan terhadap hukum juga berkaitan dengan proses sosialisasi. Orang pada umumnya dilahirkan untuk mematuhi hukum. Cara hidup yang legal menjadi cara kebiasaan dari hidup. Dari masa kanak-kanak, seorang anak memperoleh pemahaman ar dari perintah dan aturan dari orangtua dan menjadi terbiasa karenanya. Proses ini berulang di sekolah-sekolah dan di dalam masyarakat. Semua itu akan memberikan – atau harus memberikan – par sipasi dari manusia yang dewasa. Individu, katakanlah demikian, membentuk regulasi-regulasi ini dan membuatnya untuk diri mereka sendiri. Dalam prosesnya, disiplin telah digan dengan disiplin terhadap diri sendiri.

Robert B. Seidman (1978: 100) menggarisbawahi bahwa “hukum kurang lebih konsisten dengan aturan sosial yang ada

yaitu dak perlu tergantung kepada ancaman sanksi hukum untuk mengatur (to induce) perilaku“. Namun, dak semua hukum konsisten dengan aturan sosial yang ada, dan salah satu keuntungan hukum, sebagai agen perubahan sosial adalah, bahwa pelanggaran hukum potensial seringkali dicegah oleh risiko yang aktual ataupun yang dibayangkan dan oleh kekerasan sanksi-sanksi yang diterapkan kepada si pelanggar aturan

(noncompliance). Bahkan ancaman sanksi dapat mencegah

orang dari ke dakpatuhan. Barangkali sanksi-sanksi sebagian juga ber ndak dengan mengharuskan sikap moralis k menuju kepatuhan (Schwartz dan Orleans, 1970).

Situasinya sangat berbeda bilamana perubahan yang dicari melalui hukum adalah pengurangan atau penghapusan perilaku yang menyimpang (deviant behaviors). Dalam hal ini, hukum dak memberikan hadiah atau insen f untuk membujuk (dissuade) individu-individu agar dak melakukan ndakan menyimpang – hanya kemungkinan, jika dak keyakinan, dari pendeteksian dan penghukuman. Dalam hal seper itu, penekannya adalah pada pencegahan (deterence), penghukuman, dan pembalasan

(vengeance), dan tujuannya adalah penghapusan atau

pengurangan pe- pe perilaku tertentu yang dipandang sebagai merugikan.

6. Kekurangan Hukum dalam Membuat Perubahan Sosial

In document AM571x Sitaraプロセッサシリコン・リビジョン2.0 datasheet (Rev. G) (Page 125-131)