ドᣐㄪ࡛ࡣ㸪ཎ࿌⿕࿌ࡣ㸪ཎ࿌ࡢッ࠼
2. Sumber Daya Manusia Pada Saat Ini Dalam laporan tahunan Mahkamah Agung 2004, yaitu Laporan Tahunan Penrtanggung Jawaban Kinerja Kekuasaan Kehakiman oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia Tahun 2004 disebutkan bahwa setelah berlakunya peradilan satu atap pegawai Mahkamah Agung terdiri dari:
1. Pimpinan dan Hakim Agung 49 orang 2. Hakim Tingg 617 orang
3. Hakim Pengadilan Tingkat Pertama 5,176 orang
4. PNS 21,156 orang
BAB III Penyelesaian Perkara Perdata Melalui Lembaga Peradilan
C. Persidangan Perkara Perdata Adapun tahap-tahap persidangan perkara perdata tersebut pada pokoknya sebagai berikut:
1. Usaha Perdamaian
Dalam persidangan pertama setelah kedua belah pihak yaitu pihak Penggugat/kuasanya dan pihak Tergugat/kuasanya hadir maka berdasarkan Pasal 130 HIR/154 RBG majelis harus berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak.
2. Jawaban Tergugat Setelah Tidak dicapai Perdamaian.
Dalam menanggapi surat Gugatan Penggugat tersebut, maka pihak Tergugat/kuasanya selain menanggapi apa yang menjadi pokok perkara, dapat juga Tergugat mengajukan eksepsi/tangkisan dan bahkan dapat pula mengajukan gugatan balik (Rekonvensi) sekaligus bersama-sama dalam jawaban Tergugat itu.
3. Replik dan Duplik
Setelah Tergugat mengajukan jawaban, maka tahapan pemeriksaan perkara perdata di Pengadilan Negeri selanjutnya adalah Replik, yaitu jawaban penggugat terhadap jawaban Tergugat atas gugatannya.
4. Pembuktian
Dalam acara pembuktian, pihak
40
ࡲ ࡓ ࡣ ⿕ ࿌ ࡢ ⟅ ᘚ ࡢ ᇶ ♏ ࡞ ࡿ ㅖ ௳ ࡸ ㅖ
ᐇࢆᥦฟࡍࡿࠋ
⌧ሙ᳨ドᑓ㛛ᐙࡽࡢពぢ⫈ྲྀ
ࡇࡢࡘࡣドᣐㄪᐦ᥋㛵ࢃࡗ࡚࠸ࡿࠋ
5. ẸุỴ
࠶ࡿ⣮தࢆ⤊ࢃࡽࡏࡿࡓࡵ㸪ุᐁࡣࡲ
ࡎ ௳ ࡢ ⨨ ࡙ ࡅ ࢆ ▱ ࡽ ࡡ ࡤ ࡞ ࡽ ࡎ 㸪 ࡑ ࡢ ᚋ㸪ุᐁࡣࡑࡢ௳ࢆᨭ㓄ࡍࡿἲ௧ࡀఱ
ࢆ☜ᐃࡋ࡞ࡅࢀࡤ࡞ࡽ࡞࠸ࠋ
HIR ࡣุᐁࡼࡿุỴࡢຠຊࡘ࠸࡚
つᐃࡋ࡞࠸ࠋ
ุỴࡣ3✀㢮ࡢຠຊࢆ᭷ࡍࡿࠋ a. ᣊ᮰ຊ
b. ドᣐຊ
c. ᇳ⾜ຊ/⾜ࢃࢀࡿຊ
ุᐁࡼࡿุỴࡣ4ࡘࡢ㒊ศࡽ࡞ࡿࠋ ࡍ࡞ࢃࡕ㸪
1. ෑ㢌㒊ศ 2. ேᐃ㒊ศ 3. ⾮㔞㒊ศ 4. ௧㒊ศ
ཎ๎ࡋ࡚ᩋッᙜ⪅ࡣッゴ㈝⏝ࡢᨭᡶ࠸
ࢆ⩏ົ࡙ࡅࡽࢀࡿࠋ
ࡇࡇ࡛࠸࠺ッゴ㈝⏝ࡣ㸪HIR➨182᮲つ ᐃࡉࢀ࡚࠸ࡿࠋࡍ࡞ࢃࡕ㸪
1. ᭩グᐁົ㈝⏝ཬࡧ༳⣬௦
2. ドே㈝⏝㸪ᑓ㛛ᐙ㈝⏝㸪㏻ヂே㈝⏝㸪ᐉ ㄋ㈝⏝
3. ⌧ሙ᳨ド㈝⏝ཬࡧࡑࡢࡢุᐁࡢ⾜Ⅽ
㈝⏝
4. ࡧฟࡋ㸪㏻▱ࢆ⾜࠺ࡇࢆࡌࡽࢀࡓ
⫋ဨࡢ⤥ᩱ㸦ሗ㓘㸧㸪ࡑࡢࡢᇳ⾜ᐁࡢ᭩㢮
㈝⏝
5. HIR➨138᮲➨6㡯つᐃࡉࢀ࡚࠸ࡿ㈝
⏝
6. ุỴᇳ⾜ಀࡿุᡤ᭩グᐁཬࡧࡑࡢࡓ ࡢ⫋ဨᑐࡋ࡚ᨭᡶࢃࢀࡿ⤥ᩱ㸦ሗ㓘㸧
ุỴࡢ✀㢮ࡣ2ࡘ࠶ࡿࠋࡍ࡞ࢃࡕ㸪 1. ⤊ᒁุỴ
2. ⤊ᒁ࡛࡞࠸ุỴࡲࡓࡣ୰㛫ุỴ㸦HIR➨ 185᮲➨1㡯㸧
Penggugat dan Tergugat mengajukan peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta yang menjadi dasar bagi gugatan penggugat atau jawaban dari Tergugat.
Pemeriksaan Setempat dan Pendapat Ahli
Dua hal ini erat kaitannya dengan pembuktian.
5. Putusan Perkara Perdata.
Untuk mengakhiri suatu sengketa, hakim terlebih dahulu harus mengetahui tentang duduk perkaranya, kemudian Hakim menentukan peraturan hukum apa yang menguasai sengketa itu.
HIR tidak mengatur tentang kekuatan putusan hakim.
Putusan mempunyai tiga macam kekuatan, yaitu:
a. Kekuatan mengikat b. Kekuatan pembuktian
c. Kekuatan eksekutorial/kekuatan untuk dilaksanakan.
Suatu putusan Hakim terdiri dari 4 bagian, yaitu:
1. Kepala Putusan 2. Identitas para pihak 3. Pertimbangan 4. Amar
Pada dasarnya pihak yang dikalahkan harus dihukum membayar bea perkara.
Biaya perkara tersebut disebutkan dalam Pasal 182 HIR meliputi:
1. Biaya kantor panitera dan biaya meterai
2. Biaya Saksi, Ahli, Juru Bahasa, Biaya Sumpah
3. Biaya pemeriksaan setempat dan perbuatan hakim yang lain
4. Gaji petugas yang diperintahkan melakukan panggilan, pemberitahuan, dan segala surat juru sita lain.
5. Biaya yang tersebut dalam Pasal 138(6) HIR
6. Gaji yang harus dibayarkan kepada panitera pengadilan dan petugas lain karena meksanakan putusan.
Jenis putusan ada dua macam, yaitu:
1. Putusan akhir
2. Putusan yang bukan putusan akhir atau putusan sela/ putusan antara (Pasal 185 ayat (1) HIR)
0
ẸุỴཎ๎29
ุỴཎ๎ࡣHIR ➨178 ᮲㸪RBG➨ 189 ᮲㸪2009ᖺἲᚊ➨48ྕㄝ᫂ࡉࢀ࡚࠸ࡿࠋ ࡍ࡞ࢃࡕ㸸
1. ᫂ᛌ࡛ヲ⣽࡞⌮⏤ࡅࡢᇶ♏ࢆ┒ࡾ㎸ࡴ
ࡇ
2. ッ࠼ࡢ࡚ࡢ㒊ศࡘ࠸ุ࡚♧ࡍࡿ⩏ົ
ࡀ࠶ࡿ
3. ッ࠼ࡽࢀ࡚࠸ࡿ⠊ᅖࢆ㉸࠼࡚ㄆᐜࡋ࡚ࡣ
࠸ࡅ࡞࠸
4. ୍⯡⾗ࡢ㠃๓࡛ㄞࡳୖࡆࡽࢀ࡞ࡅࢀࡤ
࠸ࡅ࡞࠸
D.Ẹ௳ゎỴ࠾ࡅࡿୖッ
࡚ ุ ᐁ ࡼ ࡿ ุ Ỵ ࡣ ᗘ ᳨ ド ࡉ ࢀ ࡿ ࡇࡀྍ⬟࡛࠶ࡿࠋᙜヱุỴࡢ㐣ࡕࢆಟṇࡍ
ࡿࡇࡀ࡛ࡁࡿࡼ࠺ࡍࡿࡓࡵ࡛࠶ࡾ㸪ࡑࡢ ᪉ἲࡣୖッ࡛࠶ࡿࠋ
㏻ᖖࡢୖッ
1. ␗㆟⏦ࡋ❧࡚㸦᭹⏦ࡋ❧࡚࣭ᢠ࿌
(Verzet)30㸧 2. ᥍ッ 3. ୖ࿌
㠀ᖖୖッ
1. ἲࡢ㛵ᚰᇶ࡙ࡃ◚Რ㸦ୖ࿌Რ༷㸧 2. ᑂ
➨㸲❶ ἲ㛤Ⓨࡢ୍㒊ࡋ࡚ࡢἲᇳ⾜
➨ 㸲 ❶ ࡣ ᅜ ᐙ ᨻ ⟇ ࠾ ࡅ ࡿ ἲ ᇳ ⾜ ࡢ ព
⩏ࡘ࠸࡚␎ㄝࡋ࡚࠸ࡿࡀ㸪ᮏ✏࡛ࡣᢒヂࢆ
ឡࡍࡿࠋ
➨ 㸳 ❶ Ẹ ௳ ࠾ ࡅ ࡿ ุ ᡤ ุ Ỵ ࡢ ᙉ ไᇳ⾜31
➨ 㸳 ❶ ࡛ ࡣ Ẹ ௳ ࠾ ࡅ ࡿ ุ ᡤ ุ Ỵ ࡢ ᙉ ไ ᇳ ⾜ ࡢ ཎ ๎ ᐇ ົ ࠾ ࡅ ࡿ ㅖ 㞀 ᐖ ࡘ ࠸
࡚㏙ࡿࠋᮏ᭩ࡢ୰ᚰ㒊ศࢆ࡞ࡍࠋ
A. ᪤ ☜ ᐃ ຠ ࢆ ᭷ ࡍ ࡿ Ẹ ุ Ỵ ࡢ ᙉ ไᇳ⾜
ྖἲᶒ㛵ࡍࡿ 2009ᖺἲᚊ➨ 48ྕ➨
54᮲ࡣḟࡢࡼ࠺つᐃࡍࡿࠋ
Asas Putusan Perkara Perdata.
Asas putusan tersebut dijelaskan dalam Pasal 178 HIR, Pasal 189 RBG, UU. No.
48 2009, yaitu:
1. Memuat dasar alasan yang jelas dan rinci
2. Wajib mengadili seluruh bagian gugatan
3. Tidak boleh mengabulkan melebih tuntutan
4. Diucapkan di muka umum
D. Upaya Hukum dalam Penyelesaian Perkara Perdata.
Setiap putusan hakim dimungkinkan untuk diperiksa ulang agar bisa terjadi kekeliruan pada putusan itu dapat diperbaiki yaitu dengan upaya hukum.
Upaya Hukum75 Biasa 1. Perlawanan (Verzet) 2. Banding
3. Kasasi
Upaya Hukum Luar Biasa 1. Kasasi Demi Kepentingan Hukum 2. Peninjauan Kembali
BAB IV Pengegakan Hukum Sebagai Salah Satu Unsur Pembangunan Hukum
BAB V Eksekusi Putusan Pengadilan Dalam Perkara Perdata
A. Eksekusi Putusan Perkara Perdata yang Telah Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap
Dalam Psal 54 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
ẸุỴཎ⌮
ᢠ࿌ ࡣ⿕࿌ᅾ࡛ୗࡉࢀࡓุ㸦ุỴ㸧ᑐࡋ࡚⾜ࢃࢀࡿୖッᡭẁ࡛࠶ࡿࠋ᪥ᮏࡢẸッゴἲୖࡢᢠ࿌
ࡣ␗࡞ࡿࡀ㸪࠸ࡗ࡚᥍ッ࡛ࡣ࡞࠸ࡓࡵ㸪௬ᢠ࿌ ࡢヂㄒࢆ࠼ࡓࠋ 㸯㸰㸯࣮࣌ࢪࡽࠋ
┤ヂࡍࢀࡤ㺀ἲⓗᡭẁ㺁࡛࠶ࡿࠋㄝ᫂ෆᐜࡣୖッ᪉ἲࡢㄝ࡛᫂࠶ࡿࠋ
41 ẸุỴཎ๎
ุỴཎ๎ࡣ ➨ ᮲㸪 ➨
᮲㸪 ᖺἲᚊ➨ ྕㄝ᫂ࡉࢀ࡚࠸ࡿࠋ ࡍ࡞ࢃࡕ㸸
᫂ᛌ࡛ヲ⣽࡞⌮⏤ࡅࡢᇶ♏ࢆ┒ࡾ㎸ࡴ
ࡇ
ッ࠼ࡢ࡚ࡢ㒊ศࡘ࠸ุ࡚♧ࡍࡿ⩏ົ
ࡀ࠶ࡿ
ッ࠼ࡽࢀ࡚࠸ࡿ⠊ᅖࢆ㉸࠼࡚ㄆᐜࡋ࡚ࡣ
࠸ࡅ࡞࠸
୍⯡⾗ࡢ㠃๓࡛ㄞࡳୖࡆࡽࢀ࡞ࡅࢀࡤ
࠸ࡅ࡞࠸
Ẹ௳ゎỴ࠾ࡅࡿୖッ
࡚ ุ ᐁ ࡼ ࡿ ุ Ỵ ࡣ ᗘ ᳨ ド ࡉ ࢀ ࡿ ࡇࡀྍ⬟࡛࠶ࡿࠋᙜヱุỴࡢ㐣ࡕࢆಟṇࡍ
ࡿࡇࡀ࡛ࡁࡿࡼ࠺ࡍࡿࡓࡵ࡛࠶ࡾ㸪ࡑࡢ ᪉ἲࡣୖッ࡛࠶ࡿࠋ
㏻ᖖࡢୖッ
␗㆟⏦ࡋ❧࡚㸦᭹⏦ࡋ❧࡚࣭ᢠ࿌
㸧 ᥍ッ ୖ࿌
㠀ᖖୖッ
ἲࡢ㛵ᚰᇶ࡙ࡃ◚Რ㸦ୖ࿌Რ༷㸧 ᑂ
➨㸲❶ ἲ㛤Ⓨࡢ୍㒊ࡋ࡚ࡢἲᇳ⾜
➨ 㸲 ❶ ࡣ ᅜ ᐙ ᨻ ⟇ ࠾ ࡅ ࡿ ἲ ᇳ ⾜ ࡢ ព
⩏ࡘ࠸࡚␎ㄝࡋ࡚࠸ࡿࡀ㸪ᮏ✏࡛ࡣᢒヂࢆ
ឡࡍࡿࠋ
➨ 㸳 ❶ Ẹ ௳ ࠾ ࡅ ࡿ ุ ᡤ ุ Ỵ ࡢ ᙉ ไᇳ⾜
➨ 㸳 ❶ ࡛ ࡣ Ẹ ௳ ࠾ ࡅ ࡿ ุ ᡤ ุ Ỵ ࡢ ᙉ ไ ᇳ ⾜ ࡢ ཎ ๎ ᐇ ົ ࠾ ࡅ ࡿ ㅖ 㞀 ᐖ ࡘ ࠸
࡚㏙ࡿࠋᮏ᭩ࡢ୰ᚰ㒊ศࢆ࡞ࡍࠋ
᪤ ☜ ᐃ ຠ ࢆ ᭷ ࡍ ࡿ Ẹ ุ Ỵ ࡢ ᙉ ไᇳ⾜
ྖἲᶒ㛵ࡍࡿ ᖺἲᚊ➨ ྕ➨
᮲ࡣḟࡢࡼ࠺つᐃࡍࡿࠋ
29
ẸุỴཎ⌮
30 ᢠ࿌(Verzet)ࡣ⿕࿌ᅾ࡛ୗࡉࢀࡓุ㸦ุỴ㸧ᑐࡋ࡚⾜ࢃࢀࡿୖッᡭẁ࡛࠶ࡿࠋ᪥ᮏࡢẸッゴἲୖࡢᢠ࿌
ࡣ␗࡞ࡿࡀ㸪࠸ࡗ࡚᥍ッ࡛ࡣ࡞࠸ࡓࡵ㸪௬ᢠ࿌(Verzet)ࡢヂㄒࢆ࠼ࡓࠋ
31 㸯㸰㸯࣮࣌ࢪࡽࠋ
75
┤ヂࡍࢀࡤ㺀ἲⓗᡭẁ㺁࡛࠶ࡿࠋㄝ᫂ෆᐜࡣୖッ᪉ἲࡢㄝ࡛᫂࠶ࡿࠋ
42 (1) ฮ ุ Ỵ ᇳ ⾜ ࡣ ᳨ ᐹ ᐁ ࡼ ࡗ ࡚ ⾜ ࢃ ࢀ
ࡿࠋ
(2) ẸุỴᇳ⾜ࡣ㸪ุᡤ㛗ࡢᣦࡢୗ㸪
᭩グᐁཬࡧᇳ⾜ᐁࡼࡾ⾜ࢃࢀࡿࠋ
(3) ุ ᡤࡢ ุỴ ࡣே㐨 ⓗ౯ ್ṇ ⩏␃
ពࡋ࡚⾜ࢃࢀࡿࠋ
ḟୖグἲᚊ➨55᮲୰࡛ḟࡢࡼ࠺
ࡶ㏙ࡽࢀ࡚࠸ࡿࠋ
(1) ุ ᡤ㛗 ࡣἲ ⓗᇳ⾜ ຊࢆ ࡉ ࢀࡓ
ุ ᡤ ࡢ ุ Ỵ ࡢ ᐇ ࢆ ┘ ╩ ࡋ ࡞ ࡅ ࢀ ࡤ ࡞ ࡽ ࡞
࠸ࠋ
(2) ➨1㡯ᐃࡵࡿุᡤุỴᐇ⾜ࡢ┘╩ࡣ ἲ௧ᩚྜⓗ⾜ࢃࢀࡿࠋ
᭩ グ ᐁ ࡸ ᇳ ⾜ ᐁ ࡼ ࡗ ࡚ ⾜ ࢃ ࢀ ࡿ Ẹ
௳ᙉไᇳ⾜32ᐇࡣ㸪ุᡤ㛗ࡀ௧㸪Ỵᐃ ࡋ ࡚ ⾜ ࢃ ࢀ ࡿ ࡶ ࡢ ࡛ ࠶ ࡿ ࡇ ࡣ ᫂ ࡽ ࡛ ࠶
ࡿࠋ᪉ุ࡛ᡤ㛗ࡣ┘╩ࡢࡶᙉไᇳ⾜
⏦ ࡋ ❧ ࡚ ࡢ ཷ ⌮ ࡽ ᙉ ไ ᇳ ⾜ ࡢ ᐇ ⤊ ࡲ
࡛㈐௵ࡶ᭷ࡋ࡚࠸ࡿࠋ
ⴭ⪅ࡣSubekiࡀᙉไᇳ⾜ࡘ࠸࡚㏙ࡓ
ࡇ ࢁ ࡛ ࢃ ࢀ ࡚ ࠸ ࡿ ព ⩏ ྠ ࡌ ព ぢ ࢆ ᣢ ࡗ࡚࠸ࡿࠋࡍ࡞ࢃࡕ㸪Subekiࡣ㸪HIR➨10
❶➨5⠇ࡢ୰࡛㸪ᙉไᇳ⾜ࡢព⩏ࡣุỴࡢᐇ
⾜ ࠸ ࠺ ゝ ⴥ ࡛ ゝ ࠸ ⾲ ࡉ ࢀ ࡿ ㏙ ࡽ ࢀ ࡚
࠸ࡿࡼ࠺㸪ุỴࡢᐇ⾜࠸࠺ゝⴥ࡛ᙉไᇳ
⾜ࢆゝ࠸⾲ࡋ࡚࠸ࡿࠋ
ุᡤࡢุỴࡢᐇ⾜ࡣ㸪ุᡤࡢุỴࡢෆ ᐜࢆᐇࡍࡿࡇ࡞ࡽ࡞࠸ࠋࡍ࡞ࢃࡕ㸪 ᩋッᙜ⪅㸦ᙉไᇳ⾜ࡢᑐ㇟⪅ࡲࡓࡣ⿕࿌㸧 ࡀ௵ព࡛ᒚ⾜ࡋࡼ࠺ࡋ࡞࠸ሙྜ㸪୍⯡ຊ
ࢆ ⏝ ࡋ ࡚ ุ ᡤ ࡢ ุ Ỵ ࢆ ᙉ ไ ⓗ ᐇ ࡍ
ࡿࡇ࡛࠶ࡿࠋ
Ẹ ἲ ࡣ Ẹ 㛵 ಀ33 ࠾ ࡅ ࡿ ᙜ ⪅ 㛫 ࡢ ᶒ
⩏ົࡘ࠸࡚つᐃࡍࡿἲ࡛࠶ࡿࠋ Ẹᡭ⥆ἲࡣ㸪Ẹἲ㛵ಀ࠾࠸࡚୧ᙜ
disebutkan:
(1) Pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana dilakukan oleh jaksa.
(2) Pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara perdata dilakukan oleh panitera dan juru sita dipimpin oleh ketua pengadilan.
(3) Putusan pengadilan dilaksanakan dengan memperhatikan nilai kemanusiaan dan keadilan.
Selanjutnya dalam Pasal 55 UU tersebut juga menyebutkan:
(1) Ketua pengadilan wajib mengawasi pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
(2) Pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Jelaslah bahwa ketua pengadilan yang memerintahkan/menetapkan untuk dilaksanakan eksekusi perkara perdata yang pelaksanaannya dilakukan oleh panitera dan jurusita, namum Ketua Pengadilan selain mengawasi tetapi juga bertanggun jawab sejak diterimanya permohonan eksekusi sampai selasainya pelaksanaan eksekusi tersebut.
Penulis sependapat dengan istilah yang digunakan oleh Subeki yang menyebut eksekusi76 dengan istilah pelaksanaan putusan yang dalam HIR Bab kesepuluh bagian kelima pengertian eksekusi disebut dengan istilah menjalankan putusan.
Menjalankan putusan pengadilan tiada lain daripada melaksanakan isi putusan pengadilan yakni melaksanakan secara paksa putusan pengadilan dengan bantuan kekuatan umum77 apabila pihak yang kalah (tereksekusi atau pihak tergugat) tidak mau menjalankannya secara sukarela.
Hukum perdata adalah hukum yang mengatur hak dan kewajiban pihak-pihak dalam hubungan hukum perdata.
Hukum Acara Perdata78 adalah hukum
32
࣐࣐ࠋཎᩥୖࠕุỴࠖࡀ↓࠸ࠋ
33 ཎᩥ࡛ࡣ㸪㺀hubungan hukum perdata=Ẹἲ㛵ಀ㺁࡛࠶ࡾࢺ࣮ࢺࣟࢪ࡛࢝ࣝ࠶ࡿࠋ
76 ࣥࢻࢿࢩ࠾ࡅࡿEksekusi(ᙉไᇳ⾜)ࡢព⩏ࡘ࠸࡚ࡢㄽⅬ➹⪅ࡢ❧ሙࡢ⤂ࠋ
77
୍⯡ຊࠋ㸯㸰࣮࣌ࢪ⾲⌧ࡀ␗࡞ࡿࠋ
2
43
⪅ ࡀ ᶒ ⩏ ົ ࢆ ᒚ ⾜ ࡍ ࡿ ᪉ ἲ ࢆ つ ᐃ ࡍ ࡿ ἲ࡛࠶ࡿࠋ
Ẹᡭ⥆ἲࡢつᐃࡢ୰࡛ࡣ㸪ᦆᐖࢆ⿕ࡗࡓ ᙜ ⪅ ࡀ ࡢ ࡼ ࠺ ࡋ ࡚ ௳ ࢆ ุ ᡤ ⏦ ࡋ❧࡚ࡿ㸪ッ࠼ࡽࢀࡓᙜ⪅ࡀࡢࡼ࠺
ࡋ࡚㜵ᚚࡍࡿ㸪ุᐁࡀࡢࡼ࠺ࡋ࡚⣮
தᙜ⪅ᑐࡋ࡚⾜Ⅽࡍࡿ㸪ุࡀࡢࡼ
࠺ࡋ࡚௳ࢆᑂ⌮ࡋุỴࡍࡿ㸪ࡘ࠸࡚
つᐃࡉࢀ࡚࠾ࡾ㸪ࡑ࠺ࡋ࡚㸪⾮ᖹ⤊⤖ࡉࡏ㸪 ௨ ୗ ࡋ ࡚ ุ ᐁ ࡼ ࡿ ุ Ỵ ࢆ ᐇ ⾜ ࡍ ࡿ
ࢆࡣࡗ࡚࠸ࡿࠋ
௨ୖࡼࡾ㸪ุᐁࡼࡿุỴࡢᐇ⾜ࡣẸ
௳ ࣉ ࣟ ࢭ ࢫ ࡢ ୍ ࡘ ࡢ ᭱ ⤊ ሙ 㠃 ࡛ ࠶ ࡿ ࠸
࠼ࡿࠋ
Ẹ ௳ ࡣ ࡉ ࡲ ࡊ ࡲ ࡞ ഃ 㠃 ࡽ ほ ᐹ ࡍ ࡿ ࡇࡀ࡛ࡁࡿࠋ
Ẹ௳࠾࠸࡚௳ࡀⓎ⏕ࡍࡿࡢࡣ34㸪 Ẹ ἲ ࡛ つ ᐃ ࡉ ࢀ ࡚ ࠸ ࡿ ࡼ ࠺ ࡞ ே ࡢ ᶒ ࡀ ᐖࡉࢀࡿࡽ࡛࠶ࡿࠋ
௳ࡢࢽࢩࢸࣈ㸦ᑟ㸧ࡣ⿕ᐖ⪅
ࡽฟ࡚ࡃࡿࠋ
ุ ᡤ ௳ ࢆ ⏦ ࡋ ❧ ࡚ ࡿ ᙜ ⪅ ࢆ ཎ ࿌
ࡧ 㸪 ッ ࠼ ࡽ ࢀ ࡚ ࠸ ࡿ ᙜ ⪅ ࢆ ⿕ ࿌ ࡪࠋ
Ẹッゴἲࡣ㸪ᇶᮏⓗ HIR RBG ࡢ
㸪ྖἲᶒἲ㸪㏻ᖖุἲཬࡧ᭱㧗ุᡤ ἲつᐃࡀ࠶ࡿࠋ
ุỴࡢᙉไᇳ⾜ࡢ᪉ἲࡘ࠸࡚ࡣ HIR➨ 㸯㸷㸴᮲࡞࠸ࡋ➨㸰㸰㸲᮲ཬࡧRBG➨㸰㸮 㸴᮲࡞࠸ࡋ➨㸰㸳㸶᮲つᐃࡉࢀ࡚࠸ࡿࠋ
HIRRBGࡢ୰㸪HIR➨209᮲࡞࠸
ࡋ➨223᮲ࡲࡓࡣRBG➨242᮲࡞࠸ࡋ257 ᮲ࡀ࠶ࡾ㸪ே㉁ࡘ࠸࡚つᐃࡋ࡚࠸ࡿࠋࡇࡢ つᐃࡣ㸪ே㐨⩏ࡍࡿ࠸࠺⌮⏤࡛㸪 ࡘ࡚᭱㧗ุᡤᅇ≧1964ᖺ➨2ྕࡼࡗ࡚
㐺⏝ࡀ⚗Ṇࡉࢀࡓࡇࡀ࠶ࡿࠋ
yang mengatur cara melaksanakan79 hak dan kewajiban pihak-pihak dalam hubungan hukum perdata.
Dalam peraturan Hukum Acara Perdata diatur bagaimana cara pihak yang dirugikan mengajukan perkaranya ke pengadilan, bagaimana cara pihak yang diserang mempertahankan diri, bagaimana hakim bertindak terhadap pihak-pihak yang berperkara, bagaimana hakim memeriksa dan memutus perkara, sehingga dapat diselesaikan secara adil, bagaimana cara melaksanakan putusan hakim.
Dengan demikian pelaksanaan putusan hakim merupakan akhir dari suatu proses perkara perdata.
Perkara perdata dapat dilihat dari berbagai aspek.
Dalam perkara perdata timbulnya perkara karena terjadi pelanggaran, terhadap hak seseorang seperti diatur dalam hukum perdata.
Inisiatif berperkara, datang dari pihak yang dirugikan.
Pihak yang mengajukan perkara ke pengadilan disebut penggugat (plaintiff) sedangkan pihak yang digugat (lawannya) disebut tergutat (opposant).
Ketentuan Hukum Acara Perdata pada dasarnya diatur dalam HIR dan RBG, dan perundang-undangan lainnya antara lain Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Peradilan Umum dan Undang-Undang Mahkamah Agung.
Aturan tata cara pelaksanaan putusan pengadilan diatur dalam Pasal 196 sampai dengan Pasal 224 Bab ke sepuluh bagian kelima HIR atau Titel bagian ke empat RBG Pasal 206 sampai dengan Pasal 258 RBG.
Di anrata pasal-pasal HIR dan RBG yang disebutkan di atas yaitu Pasal 209 sampai dengan 223 HIR atau Pasal 242 sampai dengan Pasal 257 RBG yang mengatur tentang sandera (Gijzeling) oleh SEMA No.2 Tahun 1964 pernah dinyatakan tidak boleh dipergunakan lagi karena dianggap bertentangan dengan perikemanusiaan.
34 ࣐࣐ࠋࢺ࣮ࢺࣟࢪ࡛࢝ࣝ࠶ࡿࠋ
79 Melakukan, melaksanakan࡞ࡢ⏝ㄒࢆ⤫୍ࡍࡿࠋ
ࡋࡋ࡞ࡀࡽ㸪᭱㧗ุᡤᅇ≧1964ᖺ➨
2ྕཬࡧ1975ᖺ➨4ྕࡣ㸪㌟యᙉไᶵ㛵
㛵ࡍࡿ᭱㧗ุᡤつ๎2000ᖺ➨1ྕࡼࡾ
↓ຠࢆᐉゝࡉࢀࡓ35ࠋ
HIR➨180᮲ࡲࡓࡣRBG➨191᮲ࡣ㸪 ௬ᇳ⾜ᐉゝุỴࡢᐇ⾜ࡘ࠸࡚つᐃࡍࡿࠋ ࡋࡋ࡞ࡀࡽ㸪ୖグࡢཎ๎࣭ཎ⌮ࡘ࠸࡚
ࡣἲᚊୖつᐃࡉࢀ࡚࠸ࡿእࡀᏑᅾࡍࡿࠋࡍ
࡞ࢃࡕ㸸
㸯㸬ඛ⾜ⓗุỴᐇ⾜