HTTP サーバ機能 ( かんたん設定 / プロバイダ設定 )

ドキュメント内 コマンドリファレンス (Page 94-99)

Terdapat lima prinsip dasar yang sangat penting bagi mereka yang berminat kepada pengorganisasian ataupun pengembangan masyarakat. Prinsip-prinsiptersebutadalah:

1. Penekanan pada pentingnya kesatuan kehidupan masyarakat dan hal yang terkait dengan hal tersebut dimana pengorganisasian (ataupun pengembangan) masyarakat harus dilakukan dengan mempertimbangkan keseluruhan kehidupan masyarakat, dan tidak dilakukan hanya untuk segmen tertentu dalam kehidupan masyarakat, seperti halnya untuk aspek kesehatan, rekreasi, ataupun kesejahteraan dalam arti sempit.

2. Perlu adanya pendekatan antar tim dalam pengembangan masyarakat, dimana tidak hanya menekankan pada pendekatan multiprofesi, tetapi juga multi iapisan profesi (multi vocational), karena disini diperlukan adanya keterlibatan layanan yang sub professional, selain layanan yang profeisonal.

3. Kebutuhan akan adanyacommunity worker serba bisa(multi purpose) pada wilayah pedesaan, dimana petugas harus mampu bekerja pada berbagai basis pekerjaanyang berbeda.

4. Pentingnya pemahaman akan pola budaya masyarakat lokal. Lebih jauh lagi, para petugas haruslah benar-benar tulus ingin mengembangkan masyarakat yang ada, bukan sekedar memperkenalkan ataupun tnembawa teknoiogi yang baru ke masyarakat.

5. Adanya prinsip kemandirian yang menjadi prinsip utama dalam pengembangan masyarakat. Pengembangan masyarakat harus dilaksanakan bersama masyarakat dan bukan sekedar untuk masyarakat. Dunham (1958:252-253 dalam Adi, 2003)

Kelima prinsip ini telah menjadi bagian yang esensial didalam upaya-upaya pembangunan masyarakat. Seorangcommunity workerdituntut disamping harus menguasai berbagai keahlian juga harus selalu memperhatikan dan menghormati kearifan nilai-nilai budaya lokal sebagai cerminan akumulasi pegetahuan masyarakat secara turun-temurun. Oleh karena itu adagium yang dipakai didalam pembangunan masyarakat adalah bekerja bersama masyarakat (working with people) dan bukan bekerja untuk masyarakat(working for people),hal ini sesuai dengan prinsip kelima. Dengan prinsip ini seorang community worker menempatkan diri secara setara dengan masyarakat dan bertindak sebagai teman(partner)yang bersedia belajar bersama masyarakat dan tidak bersifat menggurui. Pada dasarnya terdapatdua pendekatan didalam upaya pembangunan masyarakat yaitu pendekatan direktif dan pendekatan non-direktif (Batten dalam Adi, 2003). Kedua pendekatan ini bersifat situasional dan harus dilakukan penyesuaian sesuai setting masyarakat yang dihadapi. Kedua pendekatan ini mengacu kepada tingkat kemajuan dan potensi yang ada di masyarakat baik yang telah didayagunakan ataupun belum didayagunakan.

Pendekatan direktif (directive approach) dilakukan berlandaskan asumsi hahwa community worker tahu apa yang dibutuhkan dan apa yang baik untuk masyarakat. Community worker yang menetapkan apa yang baik atau buruk bagi masyarakat, cara-cara apa yang perlu dilakukan untuk memperbaikinya, dan selanjutnya menyediakan sarana yang diperlukan untuk perbaikan tersebut. Dengan pendekatan seperti ini, prakarsa dan pengambilan keputusan berada di tangan community worker.

Pendekatan yang kedua adalah pendekatan non-direktif. Pendekatan ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa masyarakat tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan dan apa yang baik untuk mereka. Pada pendekatan ini community worker tidak menempatkan diri sebagai orang yang menetapkan apa yang 'baik' atau 'buruk' bagi masyarakat. Pemeran utama didalam perubahan adalah masyarakat itu sendiri, community worker lebih bersifat menggali dan mengembangkan potensi masyarakat. Masyarakat diberikan kesempatan untuk membuat analisis sendiri dan mengambil keputusan yang berguna bagi mereka sendiri, serta mereka diberi kesempatan penuh dalam

penentuan cara-cara untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.

Di dalam penerapannya, pemilihan antara pendekatan direktif dan non-direktif perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan masyarakatnya, Masyarakat yang sudah mampu mendayagunakan potensi yang dimiliki perlu didekati dengan pendekatan non-direktif, tetapi bagi masyarakat yang relatif "belum berkembang" maka pemilihan pendekatan pada awalnya lebih diarahkan pada pendekatan direktif.

Komunitas yang Relatif 'tsrbslakang'

komunitas yang relatif lebih 'maju'

Dari gambar 4.1 dapat diambil kesimpulan bahwa pemilihan pendekatan yang akan digunakan dapat saja dimulai dengan pendekatan yang bersifat direktif (instruktif) apabila komunitas sasaran masih dalam keadaan kurang berkembang/terbelakang. Tetapi sejalan dengan perkembangan pemikiran dari komunitas sasaran maka arah pengembangan secara bertahap bergerak menuju pendckatan yang lebih partisipatif atau bersifatnon-direktif (Adi, 2003:233)

Pendekatan lainnya didalarn upaya pembangunan masyarakat adalah didalam usaha-usaha pemberian bantuan kemasyarakatan. Sutarso (1991) menjelaskan bahwa terdapattiga skala didalam upaya-upaya pemberian bantuan kemasyarakatan. Masing-masing skala tersebut mengacu kepada tiga dimensi yang berlainan yaitu waktu, tujuan, dan metode.

1). Skala Waktu

Pada salah satu sisi, skala waktu berunsurkan tindakan darurat yang harus dilakukan secepat mungkin untuk membantu masyarakat. Contohnya apabila terjadi bencana alam yang memerlukan tindakan cepat untuk membantu para korban. Sedangkan pada sisi lainnya tersedia cukup waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Misalnya, situasi di suatu organisasi dimana para anggotanya harus memberikan kesepakatan sebeium dimulainya suatu proyektertentu.

Waktu sangat Waktu cukup

mendesak . tersedia

2). Skala Tujuan

Pada salah satu sisi, skala tujuan berunsurkan satu rencana/upaya yang berisikan suatu proyek atau satu program yang spesifik, misalnya pengadaan proyek perumahan bagi masyarakat. Sedangkan pada sisi skala lainnya dapat ditemukan upaya penyembuhan sosial yang tujuannya adalah menciptakan proses untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan mencapai kohesi yang lebih besar serta kemampuan untuk bertindak menghadapi masaiah-masalah yang dialami oleh masyarakat tersebut. Tujuan dari upaya ini bukan untuk mencapai suatu hasi! tertentu dalam bentuk proyek atau program tetapi lebih diarahkan kepada proses untuk mencapai peningkatan pemahaman, kemampuan dan integrasi masyarakat.

Rencana/usaha Penyembuhan

spesifik (tujuan) sosial (proses) 3). Skala Metode

Pada salah satu sisi skala metode ini dapat ditemukan upaya yang sifatnya memaksa. Disini seseorang atau suatu kelompok berusaha untuk mempengaruhi, memperdayakan atau memaksa masyarakat agar menerima suatu gagasan, rencana pelayanan dan sebagainya. Sedangkan pada sisi skala yang lain digunakan metoda untuk membimbing warga masyarakat agar mampu mengambil keputusan sendiri tentang apa yang mereka anggap penting dan tindakan apa yang sekiranya perlu dilakukan. Diantara kedua sisi ekstrim ini dapat ditentukan berbagai upaya yang memadukan unsur pemaksaan dan pengambilan keputusan sendiri, tergantung ke sisi mana terjadinya kecendrungan upaya yang akan dilakukan.

Pemaksaan Pengambilan

kepurtusan sendiri

Apabila dilihat tampaknya ada perbedaan didalam filsafat, tujuan, metoda serta hasil yang ingin dicapai. Masing-masing penerapan pendekatan mempunyai pembenarannya sendiri dalam situasi-situasi tertentu dan dapat memberikan hasi! paling baik kalau digunakan secara tepat sesuai

dengan tuntutan situasi ini. (Sutarso, 1991:17-19)

Singkatnya bahwa didalam pemberian bantuan kemasyarakatan dan pembangunan masyarakat teriebih dahulu harus diketahui bagaimana kondisi masyarakat (komunitas) yang akan(^-treatment serta bagaimana karakteristik dari masalah yang sedang dihadapi. Apabila masalah bersifat mendesak dan tidak dapat ditangguhkan upaya penyelesaiannya sehingga memerlukan pencarian solusi yang bersifat berada di sisi kiri ketiga skaia atau berdasarkan karakteristik masalah ternyata diputuskan bahwa solusi yang akan dilakukan lebih mengarah ke sisi kanan skala. Semuanya itu sangat bergantung kepadaassesmentyang dilakukan.

Penjelasan ketiga dikemukakan oleh Glen dalam Cary (1970), yang menyatakan ada 3 unsuryang menjadi dasarciri khas pendekatancommunity development,yaitu:

1. Tujuan dan pendekatan ini adalah memampukan masyarakat untuk mendefinisikan dan memenuhi kebutuhan mereka.

2. Proses pelaksanaannya melibatkan kreativitas dan kerjasama masyarakat atau kelompok-kelompok dalam masyarakat tersebut.

3. Praktisi yang menggunakan model intervensi ini (lebih banyak) menggunakan pendekatan communitydeveiopmentyangbersifat nondirektif.

Berkenaan dengan unsur pertama,tujuan ojtama community developmentadalah mengembangkan kemandirian dan pada dasarnya rnemantapkan rasa kebersamaan sebagai suatu komunitas berdasarkan "basis ketetanggaan", meskipun bukan secara eksklusif. Unsur kedua community development mensyaratkan adanya kerjasama dan kreativitas sebagai dasar proses pembangunan masyarakat yang baik. Pandangan yang melihat komunitas sebagai kelompok masyarakat, yang secara potensial kreatif dan kooperatif merefleksikan idealisme sosial yang pbsitif terhadap upaya-upaya kolaboratif dan pembentukan identitas komunitas. Unsur ketiga, menggambarkan peran Community Development Worker (CD Worker). Pada pendekatan ini lebih banyak difokuskan pada peran sebagai pemercepat perubahan (enabler), pembangkit semangat (encourage) dan pendidik (educator). Secara mendasar Glen percaya bahwa dalam pembangunan masyarakat, pendekatan non-direktif lebih tepat diterapkan dibanding dengan pendekatan direktif.

ドキュメント内 コマンドリファレンス (Page 94-99)