Dinamika Relasi Hukum Negara Dengan Hukum Adat (Studi Kasus Pengakuan Hak Ulayat Atas Tanah)
D. Penutup
東アジア・東南アジアにおける西洋近代法と慣習法の関係に関する研究
ada di dalam UU Kehutanan berbeda dengan yang ada di dalam UU HAM, tepatnya dalam Pasal 6 ayat (2) yang menentukan bahwa identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman. Hal ini dapat dimaknai bahwa pada hakikatnya pemerintah tidak mengakui adanya hak ulayat dan telah melakukan pembiaran pelanggaran HAM terkait dengan penggunaan hak ulayat atas tanah untuk kepentingan investor.
Memang diakui hingga saat ini ada beberapa Peraturan Daerah dan Surat Keputusan Bupati yang mengakui adanya hak ulayat, namun jumlahnya tidak banyak(34). Selebihnya banyak Pemerintah Kabupaten yang tidak mengakui hak ulayat sehingga eksistensi hak ulayat dari masyarakat hukum adat semakin tergerus oleh konsesi untuk investor yang telah mendapatkan ijin dari pemerintah pusat maupun daerah. Jadi sekalipun banyak peraturan perundang-undangan yang mengatur hak ulayat, hal ini tidak berarti hak ulayat semakin diakui dan dilindungi, tetapi kebijakan penggerusan hak ulayat terus berlangsung demi kepentingan pemilik modal, sehingga konfl ik muncul dimana-mana(35).
Dinamika Relasi Hukum Negara Dengan Hukum Adat(Studi Kasus Pengakuan Hak Ulayat Atas Tanah)
東アジア・東南アジアにおける西洋近代法と慣習法の関係に関する研究
AMAN, Kasmita Widodo memperkirakan total luas tanah adat di Indonesia sekitar 10 juta hektar. Lihat Kompas, 21 April 2012.
⑺ Untuk kepentingan analisis, hak ulayat atas tanah ini hanya dibatasi dalam ruang lingkup lahan dan hutan, dengan tiga alasan: pertama, bagi masyarakat hukum adat, lahan dan hutan merupakan unsur utama dari hak ulayat atas tanah; kedua, untuk membedakan dengan hak ulayat laut dalam perspektif hukum adat, seperti mane’e di Talaud, panglima laot di Aceh, kelong di Batam, awig-awig hak ulayat laut di Lombok, sasi laut di Kep. Kei dan Raja Ampat ; ketiga, tanah dan hutan sering menjadi obyek konfl ik dan ditangani oleh lembaga pemerintah yang berbeda, tanah menjadi kewenangan Badan Pertanahan Nasional dan hutan menjadi kewenangan Kementerian Kehutanan.
⑻ http;//www.dephut.go.id/files/Statistik_Kehutanan_2008_Planologi.pdf (diakses 19-2-2012).. Data terbaru menyebutkan bahwa pada tahun 2012, hutan Indonesia tinggal 45 juta hektar. Lihat www. badanplanologidephut.
com, diakses 27 Juli 2012.
⑼ Sampai tahun 1991 telah diberikan izin 580 konsesi HPH dengan luas masing-masing rata-rata sekitar 105.000 hektar, sehingga totalnya mencapai 60 juta hektar atau sekitar 31 persen dari luas daratan Indonesia. Bandingkan dengan luas daratan RI, 1.922.570 km persegi atau setara dengan 192.257.000 hektar. Lihat Owen J. Lynch dan Kirk Talbott, Keseimbangan Tindakan: Ssistem Pengelolaan Hutan Kerakyatan dan Hukum Negara di Asia Pasifi k, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Jakarta, 2001, hlm.83.
⑽ Data Sawit Watch menunjukkan bahwa sampai bulan Juni 2010, pemerintah telah memberikan 9,4 juta hektar kepada perkebunan sawit dan diperkirakan akan mencapai 26,7 juta hektar pada tahun 2020. Lihat Lihat Kompas 14 Januari 2012.
⑾ Di Kalimantan Timur misalnya, luas izin pertambangan pada tahun 2011 meningkat 18 persen dibandingkan dengan tahun 2010, umumnya izin dikeluarkan setelah pilkada atau menjelang pilkada. Hal yang sama terjadi di Jambi, NTB, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Lihat Kompas, 22 Februari 2012.
⑿ Sebagaimana dikutip Andiko, “Kebijakan Penyebab Kemiskinan Masyarakat Pinggir Hutan”, dalam Konsolidasi Masyarakat Pinggir dan dalam Hutan, Bogor, 19-22 Februari 2006.
⒀ Pemberian kewenangan ini tertuang dalam Pasal 14 ayat (1) huruf k dan huruf n UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
⒁ Michaela Haug, Kemiskinan dan Desentralisasi di Kutai Barat: Dampak Otonomi Daerah terhadap Kesejahteraan Dayak Benuaq, CIFOR, Bogor, 2007, hlm. vii.
⒂ AMAN, Memahami Dimensi-Dimensi Kemiskinan Masyarakat Adat, AMAN & ICCO, Jakarta, 2010, hlm. 98.
⒃ Noer Fauzi, “Konfl ik Tenurial: Yang Diciptakan Tapi Tak Hendak Diselesaikan” dalam Anu Lounela dan R. Yando Zakaria (eds)” Berebut Tanah: Beberapa Kajian Berperspektif Kampus dan Kampung, Insist, Yogyakarta, 2002, hlm. 341.
⒄ Kompas, 30 Oktober 2010.
⒅ Kekosongan hukum itu dapat ditunjukkan bahwa hingga saat ini belum terbentuk UU khusus yang mengatur Hak-hak MHA seperti yang diamanatkan oleh Pasal 18 B ayat (2) UUD NRI 1945.
⒆ Kompas, 10 Agustus 2011.
⒇ Gunawan Wiradi, Reforma Agraria, Perjalanan yang Belum Berakhir, Insist, KPA, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000,hlm.116.
Ibid, hlm. 119.
Ibid, hlm. 120. Baca juga Onghokham, “Perubahan Sosial di Madiun Selama Abad XIX: Pajak dan Pengaruhnya Terhadap Penguasaan Tanah” dalam Sediono M.P. Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi (Peny), Dua Abad Penguasaan Tanah, Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa, PT. Gramedia, Jakarta, 1984,
東アジア・東南アジアにおける西洋近代法と慣習法の関係に関する研究
hlm.5.
Soerojo Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, CV. Haji Masagung, Jakarta, 1989, hlm.198.
Hiroyoshi Kano, “Sistem Pemilikan Tanah dan Masyarakat Desa di Jawa Pada Abad XIX” dalam Sediono M.P.
Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi (Peny), Dua Abad Penguasaan Tanah, Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa, PT. Gramedia, Jakarta, 1984, hlm. 47-48.
Keenam ciri hak ulayat dapat dibaca pada tulisannya Peter Burns, “Adat, yang mendahului semua hukum” dalam Jamie S. Davidson, David Henley, Sandra Moniaga, Adat Dalam Politik Indonesia, Yayasan Obor Indonesia-KITLVJakarta, Jakarta, 2010, hlm.85.
Gunawan Wiradi, Reforma Agraria, Perjalanan yang Belum Berakhir, Insist, KPA, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000, hlm.124-125.
Marjanne Termorshuizen-Arts, “ Rakyat Indonesia dan tanahnya: Perkembangan Doktrin Domein di masa kolonial dan pengaruhnya dalam hukum agraria” dalam Myrna A. Safi tri dan Tristam Moeliono, Hukum Agraria dan Masyarakat Indonesia, HuMa, Van Vollenhoven Institute, KITLV-Jakarta, Jakarta, 2010, hlm.53.
Loc.Cit.
Herman Slaats, 2002, “Evolutinary Change in Indonesian Land Law: Traditional (Adat) Perspectives” Land Administration Project-Part C, Bappenas, Jakarta. Temuan yang sama terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh Komisi Ombudsman Nasional dengan Konsorsium Pembaruan Agraria pada tahun 2002 yang menyimpulkan bahwa HMN dari cara implementasinya tidak berbeda domein verklaring.
Ibid, hlm.38.
Jika memang benar yang dikatakan Marjanne, pembuat UU ini salah persepsi sebagaimana ditunjukkan penelitian yang dilakukan oleh AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) dengan ICRAF dan Forest Peoples Programme pada tahun 2002-2003 yang menemukan bahwa yang diinginkan masyarakat adat adalah pengakuan otonomi komunitas dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lihat dalam Emil Kleden, “Kebijakan-kebijakan Transnational Institutions yang Mempengaruhi Peta Tenurial Security dalam Lingkup Masyarakat Adat di Indonesia”
makalah dalam Konferensi Internasional tentang Penguasaan Tanah dan Kekayaan Alam di Indonesia yang Sedang Berubah:Mempertanyakan Kembali Berbagai Jawaban, Hotel Santika, Jakarta, 11-13 Oktober 2004, hlm.6.
Menurut Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Joko Supriyono, dengan produksi CPO tahun ini (2012) 25,5 juta ton, Indonesia tercatat sebagai produsen CPO terbesar di dunia. Secara keseluruhan, Indonesia menyumbang 47 persen dari produksi CPO dunia, melampaui Malaysia yang hanya 39 persen. Lihat Kompas, 24 November 2012, hlm.18.
http://sains.kompas.com/read/2010/04/03/23204793/Talang.Mamak.dan.Masyarakat.Adat. yang.Merana, diakses 22 april 2012.
Diantara yang sedikit dapat disebut misalnya Perda Kab. Kampar (Riau) No.12/1999, Perda Kab. Lebak (Banten) No.32/2001, Perda Kab. Nunukan (Kaltim) No.3/2004, Perda Kab. Nunukan No.4/2004, Keputusan Bupati Bungo (Jambi) No.1246/2002, Keputusan Bupati Merangin (Jambi) No.95/2002.
Data dari Komnas HAM menyebutkan bahwa lembaga tersebut sampai akhir 2011 telah menerima 700-800 kasus konfl ik lahan antara perusahaan dengan masyarakat lokal. Data dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyebutkan bahwa hingga akhir 2011 setidaknya pernah terjadi 530 konfl ik lahan di wilayah masyarakat adat.
Sedangkan catatan Sawit Watch menyebutkan bahwa pihaknya telah menangani 663 kasus sengketa antara perusahaan perkebunan sawit dengan masyarakat. Lihat Kompas, 8 September 2011.
Dinamika Relasi Hukum Negara Dengan Hukum Adat(Studi Kasus Pengakuan Hak Ulayat Atas Tanah)
東アジア・東南アジアにおける西洋近代法と慣習法の関係に関する研究
Daftar Pustaka
Andiko, “Kebijakan Penyebab Kemiskinan Masyarakat Pinggir Hutan”, dalam Konsolidasi Masyarakat Pinggir dan dalam Hutan, Bogor, 19-22 Februari 2006.
AMAN, Memahami Dimensi-Dimensi Kemiskinan Masyarakat Adat, AMAN & ICCO, Jakarta, 2010.
Bernhard Limbong, Konfl ik Pertanahan, Margaretha Pustaka, Jakarta, 2012.
Emil Kleden, “Kebijakan-kebijakan Transnational Institutions yang Mempengaruhi Peta Tenurial Security dalam Lingkup Masyarakat Adat di Indonesia” makalah dalam Konferensi Internasional tentang Penguasaan Tanah dan Kekayaan Alam di Indonesia yang Sedang Berubah:Mempertanyakan Kembali Berbagai Jawaban, Hotel Santika, Jakarta, 11-13 Oktober 2004.
Gunawan Wiradi, Reforma Agraria, Perjalanan yang Belum Berakhir, Insist, KPA, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000.
Herman Slaats, 2002, “Evolutinary Change in Indonesian Land Law: Traditional (Adat) Perspectives” Land Administration Project-Part C, Bappenas, Jakarta.
Hilman Hadikusuma, Pokok-pokok Pengertian Hukum Adat, Alumni, Bandung, 1980.
Hiroyoshi Kano, “Sistem Pemilikan Tanah dan Masyarakat Desa di Jawa Pada Abad XIX” dalam Sediono M.P.
Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi (Peny), Dua Abad Penguasaan Tanah, Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa, PT. Gramedia, Jakarta, 1984.
Jamie S. Davidson, David Henley, Sandra Moniaga, Adat Dalam Politik Indonesia, Yayasan Obor Indonesia-KITLVJakarta, Jakarta, 2010.
Johan Iskandar, Manusia, Budaya dan Lingkungan, Humaniora Utama Press, Bandung, 2001.
Marjanne Termorshuizen-Arts, “ Rakyat Indonesia dan tanahnya: Perkembangan Doktrin Domein di masa kolonial dan pengaruhnya dalam hukum agraria” dalam Myrna A. Safi tri dan Tristam Moeliono, Hukum Agraria dan Masyarakat Indonesia, HuMa, Van Vollenhoven Institute, KITLV-Jakarta, Jakarta, 2010.
Michaela Haug, Kemiskinan dan Desentralisasi di Kutai Barat: Dampak Otonomi Daerah terhadap Kesejahteraan Dayak Benuaq, CIFOR, Bogor, 2007.
Noer Fauzi, “Konfl ik Tenurial: Yang Diciptakan Tapi Tak Hendak Diselesaikan” dalam Anu Lounela dan R. Yando Zakaria (eds)” Berebut Tanah: Beberapa Kajian Berperspektif Kampus dan Kampung, Insist, Yogyakarta, 2002.
Onghokham, “Perubahan Sosial di Madiun Selama Abad XIX: Pajak dan Pengaruhnya Terhadap Penguasaan Tanah”
dalam Sediono M.P. Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi (Peny), Dua Abad Penguasaan Tanah, Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa, PT. Gramedia, Jakarta, 1984.
Owen J. Lynch dan Kirk Talbott, Keseimbangan Tindakan: Ssistem Pengelolaan Hutan Kerakyatan dan Hukum Negara di Asia Pasifi k, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Jakarta, 2001.
Rachmad K. Dwi Susilo, Sosiologi Lingkungan, Rajawali Pers, Jakarta, 2009.
Soerojo Wignjodipoero,Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, CV.Haji Masagung, Jakarta, 1989.
Website :
http://sains.kompas.com/read/2010/04/03/23204793/Talang.Mamak.dan.Masyarakat.Adat. yang.Merana, diakses 22 April 2012.
http;//www.dephut.go.id/fi les/Statistik_Kehutanan_2008_Planologi.pdf, diakses 19-Februari 2012.
www. badanplanologidephut.com, diakses 27 Juli 2012.
東アジア・東南アジアにおける西洋近代法と慣習法の関係に関する研究
Surat Kabar :
Kompas, 30 Oktober 2010.
Kompas, 8 September 2011 Kompas 14 Januari 2012.
Kompas, 22 Februari 2012 Kompas, 21 April 2012 Kompas, 23 April 2012 Kompas, 24 November 2012,
東アジア・東南アジアにおける西洋近代法と慣習法の関係に関する研究