3. ANALISIS DATA
3.4 Penolakan Secara Implisit
3.4.4 Menggunakan Konjugasi Janai
Menanggapi argumen Gilbert, Sarina mengatakan Sarina menyatakan bahwa
“Otosareta hou ga iu nara madashimo, otoshita hou ga iu no wa okashii yo.”
Dalam tuturannya ini, Sarina memberikan pengandaian dengan menggunakan kata madashimo. Berdasarkan koujien (1991), madashimo termasuk kelas kata fukushi yang bermakna lebih baik, namun tidak terlalu buruk. Berdasarkan Matsuura (2005), madashimo berarti ‘tak apa’ dan ‘masih boleh juga’ (p. 596).
Sarina mempertentangkan argumen yang dinyatakan oleh Gilbert dengan menggunakan kata madashimo. Bagi Sarina, argumen yang diucapkan oleh Gilbert dirasa tidak pantas, karena bagaimanapun Amerika telah menyerang Jepang. Sebaiknya akan lebih baik jika argumen Gilbert itu diucapkan oleh pihak Jepang. Dengan menolak argumen yang dituturkan oleh Gilbert, secara implisit Sarina menolak argumen Gilbert.
Penggunaan bahasa dalam tuturan Sarina adalah bahasa biasa. Hal ini dapat dilihat melalui tuturannya yaitu “okashii yo”, Sarina tidak menyisipkan verba bantu desu setelah kata sifat okashii. Penggunaan bahasa biasa dalam tuturan Sarina menyerang muka Gilbert. Hal ini disebabkan Gilbert adalah seorang asing dan pada umumnya orang Jepang berbicara dengan bahasa sopan kepada orang asing atau orang yang berada di luar kelompoknya (Mizutani, 1987: 10). Akan tetapi, karena dalam tuturan Sarina tidak ada pemarkah negasi dan ditinjau secara ilokusi tuturan menyatakan bahwa tuturan Sarina adalah mempertentangkan pernyataan mitra tutur, maka penolakan pada data ini diklasifikasikan ke dalam penolakan secara implisit.
Universitas Indonesia 松本明子 :勉 強
べんきょう
だけが義務教育
ぎむきょういく
じゃないですよ。道 徳
どうとく
を学
まな
んだり、
(claim) 集 団 社 会
しゅうだんしゃかい
を学
まな
んだり、秩 序
ちつじょ
を 学
まな
んだり・・そんなの 勉 強
べんきょう
だけじ ゃないですよ。
(evidence) 太田総理 :そんなの 学 校
がっこう
に行
い
かなくたって学
まな
べるよ。 学
まな
べるよ学 校
がっこう
に行
い
かな くたって。学 校
がっこう
へ行
い
かなきゃ、そんなこと学
まな
べないって 発 想
はっそう
が貧 困
ひんこん
じゃない、そんなもの!?
(penolakan)
ŌTA : jyaa ,jyaa, gakkou no mokuteki wa nandesu ka?
MATSUMOTO : benkyou dake ga gimukyouiku jya nai desu yo. Doutoku o manndari, shuudan shakai o manandari, chitsujyo o manandari.. sonna no benkyou dake jyanai desu yo.
ŌTA : sonna no gakkou ni ikanakutatte manaberu yo. manaberu gakkou ni ikanakutatte. Gakkou e ikanakya, sonna koto manabenai tte hassou ga hinkon jya nai, sonna mono !?
ŌTA : Nah, nah, Jadi apa tujuan sekolah?
MATSUMOTO : Hanya belajar saja itu bukanlah pendidikan wajib loh. Anak-anak mempelajari moral, etika dan norma-norma dalam masyarakat, serta memperlajari hidup berkelompok dalam masyarakat. Bukan hanya belajar hal-hal seperti itu saja kan.
ŌTA : Hal-hal seperti itu bisa dipelajari tanpa pergi ke sekolah loh. Bisa dipelajari loh tanpa harus pergi ke sekolah. Pemikiran yang menyatakan bahwa kalau tidak bersekolah tidak dapat mempelajari hal-hal seperti itu (moral,etika,norma,dll), itu merupakan pemikiran yang sempit. Bukan kah begitu!?
(Tema debat 2, video 1, waktu 00:05:15 – 00:05:32)
Menanggapi pertanyaan Ōta, Matsumoto menyatakan sebuah claim berbunyi “Hanya belajar saja bukan pendidikan wajib loh”. Claim ini dibangun dengan evidence pada pernyataan berikutnya “(karena di sekolah) anak-anak mempelajari moral, etika, dan norma-norma dalam masyarakat, serta mempelajari hidup berkelompok dalam masyarakat.”
Argumen Matsumoto ditolak oleh Ōta. Ōta mengatakan “Anak-anak harus pergi ke sekolah dan tidak bisa mempelajari moral, etika dan norma-norma, bukankah pemikiran tersebut sempit?”. Ōta beranggapan bahwa pendidikan moral, etika, dan bermasyarakat tidak harus dipelajari di sekolah. Selanjutnya Ōta memberikan pandangannya bahwa keharusan untuk menyekolahkan anak-anak karena di sekolah anak-anak kelak akan mendapatkan pendidikan moral, etika, dan bermasyarakat adalah cara berpikir yang sempit.
Saat menyatakan penolakannya, Ōta mengkritik argumen Matsumoto. Ōta menilai bahwa argumen Matsumoto yang berasal dari pemikiran Matsumoto
sendiri itu terlalu sempit. Ōta menuturkan “hassou ga hinkon janai” yang artinya
“bukankah pemikiran seperti itu sempit?”. Sunagawa (1998) dalam bunkeijiten merumuskan bahwa janai berasal dari kata dewanaika. Di dalam bahasa lisan, dewanaika digunakan di akhir kalimat untuk menunjuk topik pembicaraan.
Selanjutnya, Sunagawa menjelaskan bahwa kata janai dapat dipakai oleh laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, konjugasi dewanaika cenderung digunakan oleh laki-laki. Makna dari dewanaika antara lain menunjukkan ‘rasa kaget’, ‘kritik’, dan ‘menanyakan kepastian’ (p. 143 - 144).
1) すごいじゃないか。大発見だね。
Sugoi janaika? Daihakken dane.
Wah, keren! Sungguh terobosan yang besar ya.
2) どうしたんだ。遅かったじゃないか。
Doushitanda? Osokatta janai ka?
Kamu kenapa? Bukannya ini sudah telat ya?
3) ほら、覚えてないかな。同じクラスに加藤って子がいたじゃないか。
Hora, oboetenai kana. Onaji kurasu ni Kato tte ko ga ita janaika?
Tuh kan, kayaknya aku lupa deh. Apa ada anak yang namanya Kato di kelas yang sama denganku?
Pada contoh pertama, janai bermakna kaget atau kagum. Sementara pada contoh kedua, janai menunjukkan kritikan kepada orang yang datang telat pada kalimat itu. Lalu pada contoh ketiga, janai bermakna menanyakan kepastian apakah ada anak yang bernama Kato di kelas yang sama dengan si penutur. Jika melihat konteks penggunaan janai di atas, maka dapat disimpulkan bahwa makna janai dalam tuturan Ōta kritikan terhadap argumen Matsumoto. Mengapa? Karena Ōta memasukkan penilaian terhadap argumen Matsumoto lalu diikuti dengan kata janai.
Ilokusi tuturan Ōta adalah mengkritik. Ōta mengkritik cara berpikir Matsumoto yang ia anggap sebagai pemikiran yang sempit. Perlokusi dari tuturan Ōta yaitu ingin Matsumoto sadar bahwa pemikirannya itu sempit. Dengan makna ilousi tuturannya tersebut, terdapat keambiguan karena Ōta tidak tegas dalam menolak argumen Matsumoto. Akan tetapi, dengan menggunakan konjugasi janai, Ōta mengkritik pemikiran Matsumoto yang berbeda dengan pemikirannya sendiri.
Hal ini mengindikasikan adanya perlawanan dari pihak Ōta kepada Matsumoto.
Perlawanan inilah yang dianggap sebagai penolakan.
Universitas Indonesia
Penggunaan ragam bahasa biasa oleh Ōta, disebabkan oleh perannya sebagai seorang perdana menteri dalam acara ini. Kedudukannya sebagai perdana menteri ini menyebabkan Ōta merasa kedudukannya lebih tinggi, sehingga bahasa yang ia gunakan yaitu dengan bahasa bentuk biasa.
Penolakan secara implisit dilakukan dalam empat cara, antara lain dengan menyamakan kondisi, mengemukakan efek yang akan terjadi, mempertentangkan argumen mitra tutur, dan dengan konjugasi janai.
BAB IV KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian terhadap penolakan argumen yang terdapat dalam acara debat Ōta Sōri, ditemukan 13 percakapan argumentatif yang mengandung penolakan. Penolakan argumen yang ditemukan terbagi ke dalam penolakan eksplisit maupun implisit. Hasil analisis dikelompokkan berdasarkan strategi kesantunan Brown dan Levinson yang terdiri dari Bald On Record (langsung), Positive Face (kesantunan positif), Negative Face (kesantunan negatif), dan Off Record (tidak langsung). Dari empat belas data, penolakan dengan strategi bald on record dan off record paling banyak ditemukan dalam penelitian ini.
Berikut adalah ungkapan realisasi berdasarkan empat jenis kesantunan Brown dan Levinson:
Penolakan secara eksplisit:
1. Menggunakan pemarkah negasi
Iya
Iya + Chigau
Nai
2. Menegur mitra tutur
Penolakan dengan kesantunan positif:
1. Menggunakan konjugasi –tekuremasuka 2. Menggunakan konjugasi –kyaikenai Kesantunan negatif:
1. Menggunakan jabatan mitra tutur
2. Bersikap pesimis terhadap pendapat sendiri 3. Mengemukakan pendapat pribadi
Penolakan secara implisit:
1. Menyamakan argumen mitra tutur dengan sebuah kondisi 2. Mengemukakan efek yang akan terjadi
3. Mempertentangkan argumen mitra tutur 4. Menggunakan konjugasi janai
Universitas Indonesia Faktor yang dapat dilihat dalam penggunaan strategi kesantunan berdasarkan hasil penelitian dari acara debat Ōta Sōri yaitu umur, status sosial, dan kewarganegaraan. Faktor umur, dapat diamati melalui data penolakan yang dilakukan oleh penutur yang lebih tua kepada yang lebih muda, dan sebaliknya.
Dari tujuh data, empat data merupakan penolakan dari penutur yang lebih tua kepada yang muda secara eksplsit. Lalu dua dari lima data penolakan dari penutur yang lebih muda terhadap mitra tutur yang lebih tua menggunakan kesantunan negatif. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata penutur yang lebih muda menggunakan kesantunan negatif karena ingin meminimalisir penyerangan terhadap mitra tutur yang berumur lebih muda. Akan tetapi, meskipun yang tua menolak secara eksplisit, penggunaan kalimat sopan atau –desu dan –masu digunakan untuk meminimalisir penyerangan.
Faktor yang turut mempengaruhi bentuk tuturan penolakan yaitu kedudukan.
Seperti yang dapat dilihat ketika Suzuki Toshiaki menolak argumen Ishiba yang saat itu menjabat sebagai menteri pertahanan Jepang, membuat Suzuki menolak argumen Ishiba dengan menyebutkan jabatannya.
Terdapat tiga data penolakan yang dilakukan oleh penutur Jepang kepada orang Amerika, dua data disampaikan secara eksplisit dan satu data secara implisit.
Salah satu data yang melakukan penolakan secara eksplisit menggunakan bahasa biasa. Hal tersebut disebabkan oleh mitra tutur yang berkewarganegaraan Amerika tidak mau mengalah dan pada akhirnya ia mendapat teguran dari penutur yang lebih tua darinya.
Bersadasrkan penelitian ini, dapat dilihat bentuk-bentuk penolakan argumen dengan menggunakan strategi kesantunan dan faktor apa saja yang mempengaruhinya. Ternyata, penolakan argumen dalam acara Ota Sori banyak dilakukan secara eksplisit. Meskipun penolakan dilakuka secara eksplisit, penggunaan bahasa sopan –desu dan –masu tetap digunakan untuk mengurangi penyerangan terhadap muka mitra tutur. Oleh karena itu, meskipun penelitian ini bukanlah penelitian dalam skala besar, diharapkan bisa digunakan referensi ketika sedang beradu argumen dengan orang Jepang.
TABEL 1.1. ANALISIS DATA
Data Usia Warga Negara
Profesi Jenis Kelamin
Strategi Kesantunan
Tuturan Penolakan
(1) P > M P:Jepang M:Jepang
P: Kartunis M:
Komentator
P: L M: L
Bald On Record, dengan pemarkah negasi
いや
(2) P > M P: Jepang M: Jepang
P: Politisi M: Perdana Menteri
P: Pr M: L
Bald On Record, dengan pemarkah negasi
いや、違うんで す
(3) P < M P: Jepang M: Jepang
P: Perdana menteri M:Profesor
P: L M: L
Bald On Record, Dengan pemarkah negasi
ない
(4) P > M P: Jepang M:Amerika
P: Profesor M: Artis
P: L M: L
Bald On Record, dengan teguran
なんだい、君 っ!
(5) P = M P: Jepang M: Jepang
P: Politisi M: Artis
P: L M: Pr
Positive Politeness
そういう 爆弾発言ばくだんはつげん
やめて くれますか ぁ!?
(6) P > M P: Jepang M: Jepang
P: Profesor M: Aktris
P: L M: Pr
Positive
Politeness それは我々われわれが 改 善
かいぜん
しなきゃい けないんです。
(7) P > M P: Jepang M: Jepang
P: Profesor M: Menteri
P: L M: L
Negative Politeness,
それは長官、間 違いです。
(8) P < M P: Jepang M: Jepang
P: Perdana menteri M: Politisi
P: L M: Pr
Negative Politeness
俺
おれ
の言
い
う意見
い け ん
はおそらくみ んな反対
はんたい
する と思
おも
うんだけ ど。
Universitas Indonesia Lanjutan Tabel. 1.1
Data Usia Warga Negara
Profesi Jenis Kelamin
Strategi Kesantunan
Tuturan Penolakan
(9) P < M P: Jepang M:Amerika
P: Politisi M: Artis
P: L M: L
Negative Politeness
わたし私
はね、それは やっぱり問題もんだいだ と。
(10) P < M P: Jepang M: Jepang
P: Perdana menteri M: Menteri
P: L M: L
Off Record まった全く「しょうが ない」というこ とと同おなじだそれ は!
(11) P > M P: Jepang M: Jepang
P: Artis M: Artis
P: Pr M: Pr
Off Record じゃあ、そうし
たら、わがまま の子こになるよ。
(12) P < M P: Jepang M:Amerika
P: Artis M: Artis
P: Pr M: L
Off Record 落とされた方が
言うならまだし も、落とした方 が言うのはおか しいよ。
(13) P > M P: Jepang M: Jepang
P: Perdana menteri M: Artis
P: L M: Pr
Off record
そんなこと学
まな
べ ないって発 想
はっそう
が 貧 困
ひんこん
じゃない、
そんなもの!?
Keterangan:
P = Penutur M = Mitra Tutur L = Laki-laki Pr = Perempuan
( = ) sama dengan ( > ) lebih dari/ lebih tua ( < ) kurang dari/ lebih muda
Buku
Austin, J. L. How To Do Things With Words. London: Oxford University Press, 1962.
Botha, Rudolf P. The Metodological Status of Grammatical Argumentation. Paris:
Mouton & Co., 1970.
Brown, Penelope and Stephen C. Levinson. Politeness: Some Universals In Language Usage. Melbourne: Cambridge University Press, 1987.
Effendy, U. Onong. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remadja Karya CV, 1968.
Henderson, Harold G. Handbook Of Japanese Grammar. Inggris: Pitman Press, 1945.
Herrick, James. Argumentation: Understanding and Shapping Arguments. Boston:
Pearson Costum Publishing, 1998.
Keraf, Gorys. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran. Flores: Penerbit Nusa Indah, 1993.
---. Argumentasi dan Narasi: Komposisi Lanjutan III. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Kushartanti, U. Yuwono, dan M. RMT Lauder. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Lebra, T. Sugiyama. Japanese Patterns of Behavior. USA: University of Hawaii Press, 1976.
Meyerhoff, Miriam. Introducing Sociolinguistics. New York: Routledge, 2006.
Miura, Akira. Japanese Words And Their Uses. Tokyo: Charles E. Tuttle Company, 1983.
Mizutani, Osamu dan Nobuko Mizutani. How To Be Polite In Japanese. Tokyo:
The Japan Times, 1987.
---. Gaikokujin No Gimon Ni Kotaeru Nihongo No-to: Kotoba To Seikatsu Vol. 1. Tokyo: The Japan Times, 1988.
---. Gaikokujin No Gimon Ni Kotaeru Nihongo No-to: Kotoba To Seikatsu Vol. 4. Tokyo: The Japan Times, 1989.
Universitas Indonesia
Mizutani, Osamu. et al. Nihonjijou Handbook. Jepang: Daishuukanshoten, 1995.
Sudjianto. Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta: Kesaint Blanc, 2004.
Tanaka, Sachiko dan Harumi Tanaka. Shakai Gengogaku He No Shoutai. Kyoto:
Minerva Shobo, 1996.
Usami, Mayumi. Discourse Politeness In Japanese Conversation. Tokyo: Hituzi Syobo Publishing LTD, 2002.
Warnick, Barbara dan Edward S. Inch. Critical Thinking and Communication:
The Use of Reason in Argument. New York: Macmillan Publishing Company, 1994.
Kamus
Kaneda, Ichikyousuke et al.. Shinsen Kokugo Jiten. Tokyo: Shougakukan, 1959.
Kridalaksana, Harimurti. Kamus Linguistik Edisi ke Tiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993.
---. Kamus Linguistik Edisi ke Empat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Shimura, Izuru. Koujien Edisi ke Empat. Jepang: Kabushikigaisha Iwanami Shoten, 1991.
Sunagawa, Yuriko et. al.. Nihongo Bunkei Jiten. Tokyo: Kuroshio Shuppan, 1998.
Matsuura, Kenji. Kamus Jepang-Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Tim Redaksi. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke Tiga. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
Jurnal Ilmiah
Saad Ali W. Al-Kahtani, Refusals Realizations in Three Different Cultures: A Speech Act Theoretically –based Cross-cultural Study (Riyadh: King Saud University, 2005.
Hisako Yamagashira, Pragmatic Transfer in Japanese ESL Refusals (Kagoshima:
Kagoshima Immaculate Heart College English Department, 2001.
Yuka Shigemitsu, Politeness Strategies in the Context of Argument in Japanese Debate Shows (Tokyo: Tokyo Polytechnic University, 2003.
Media Elektronik
Azuma Chizuru. 2010. 13 Apr. 2010. <http://ja.wikipedia.org/wiki/東ちづる>.
Egawa Tatsuya. 2010. 28 Apr. 2010. < http://ja.wikipedia.org/wiki/江川達也>.
Fukushima Mizuho. 2010. 28 Apr. 2010.
< http://en.wikipedia.org/wiki/Mizuho_Fukushima >.
Ikeda Kiyohiko. 2010. 13 Apr. 2010.
< http://www.d4.dion.ne.jp/~warapon/data00/birth-0714.htm>.
Ishiba Shigeru. 2010. 13 Apr. 2010.
< http://en.wikipedia.org/wiki/Shigeru_Ishiba>.
Kent Gilbert. 2010. 13 Apr. 2010. < http://en.wikipedia.org/wiki/Kent_Gilbert>.
Kevin Clone. 2010. 13 Apr. 2010. < http://www.kouenirai.com/profile/391.htm>.
Kojima Kurumi. 2010. 28 Apr. 2010 < http://ja.wikipedia.org/wiki/小島くるみ>.
Matsumoto Akiko. 2010. 28 Apr. 2010. <http://ja.wikipedia.org/wiki/松本明子>.
Miyazaki Tetsuya. 2010. 28 Apr. 2010. < http://ja.wikipedia.org/wiki/宮崎哲弥>.
Nishikawa Ayako. 2010. 28 Apr. 2010.
< http://en.wikipedia.org/wiki/Ayako_Nishikawa >.
Onodera Itsunori. 2008. 13 Apr. 2010.
< http://en.wikipedia.org/wiki/Itsunori_Onodera >.
Ōta Hikari. 2010. 13 Apr. 2010. <http://en.wikipedia.org/wiki/Hikari_Ōta>.
Ōmura Hideaki. 2009. 13 Apr. 2010.
< http://en.wikipedia.org/wiki/Hideaki_Omura >.
Suzuki Sarina. 2010. 13 Apr. 2010. <http://ja.wikipedia.org/wiki/鈴木紗理奈>.
Yamashita Hiroshi. 2010. 28 Apr. 2010.
< http://spysee.jp/%E5%B1%B1%E4%B8%8B%E6%B4%8B/1009538/>.
Yoshiie Hirosuke. 2009. 28 Apr. 2010.
< http://en.wikipedia.org/wiki/Hiroyuki_Yoshiie >.
“Politeness”. 1997. 20 Mar. 2010.
<http://logos.uoregon.edu/explore/socioling/politeness.html>.
Sumber Data
Universitas Indonesia
“Ōta Sōri.” Amerika Ni Bakudanhigai No Baishoukin Wo Sikyuushimasu. Host Ōta Hikari. Nippon TV. 10 Aug. 2007.
< http://www.ntv.co.jp/souri/manifesto/20070810.html#>
1. http://www.youtube.com/watch?v=pv1OdW3pxms 2. http://www.youtube.com/watch?v=dp0UR5LdRGc 3. http://www.youtube.com/watch?v=dtOnhuTfC9w 4. http://www.youtube.com/watch?v=m7EyZQOtoHA
“Ōta Sōri.” Gimukyouiku Wo Haishishimasu.. Host Ōta Hikari. Nippon TV. 20 Oct. 2006. < http://www.ntv.co.jp/souri/manifesto/20070810.html#>.
1. http://www.youtube.com/watch?v=wsRuX-dhOFE 2. http://www.youtube.com/watch?v=DUMRyNnP 3. http://www.youtube.com/watch?v=sQrjFq6Pi7Q
アメリカに原爆被害の賠償金を請求します
(Jepang Menuntut Kompensasi atas Bencana Bom Atom kepada Amerika) Stasiun TV: 日本テレビ(Nihon TV)
Tanggal siar: 10 Agustus 2007, pukul 20.00 – 20.54
原爆が投下から62年の月日
つきひ
が流れた。この原爆投下により広島の街は爆心地から半径 2キロは完全に崩壊。そして、奪われた命の数はこれまで広島・長崎をあわせ40万人 にもおよび、現在もなお、多くの人が原爆の後遺症で苦しんでいる。
しかし、戦後62年を迎える今もなお、アメリカ政府からの謝罪の言葉は一切ない。
さらに、今年7月にはロバート・ジョセフ核不拡散担当特使も、原爆投下が戦争に終わ りをもたらし、結果的に何百万人もの日本人の命を救うことができた、という考えを明 らかにした。確かに1951年調印のサンフラシスコ平和条約で、アメリカやイギリス は日本への賠償請求権を放棄し、日本も連合国への賠償請求権を放棄しては、いる。
しかし実は、1932年に開かれた国際連盟軍縮会議において、一般市民に対する、あ らゆる空襲の禁止が決議されている。広島・長崎への原爆投下により死傷した大多数は 一般市民。つまり、これは立派な国際法違反なのではないのか? さらに原爆の威力を 正確に測るために、事前に広島などへの空襲をやめるなど、実験だったのでは? とい う指摘も。今後、核兵器廃絶の面からも世界で唯一の被爆国「日本」は、アメリカに対 して、確固
かっこ
たる態度
た い ど
で謝罪と賠償を求めるべきではないのか?
そこでアメリカに原爆被害の賠償金を請求します。すると日本は、こう変わる!
アメリカ人:戦争で原爆を使ったのは、やはり間違いだった。原爆で亡くなった方、今 も後遺症で治療されてる方。そして広島・長崎の復興費、全て賠償させていただきます。
アメリカが賠償金を支払うことで原爆投下は犯罪であると認識させる。
子供:今まであんまり考えたことなかったけど、やっぱり戦争って、いけないことだよ ね~。
と、日本でも風化されつつある戦争への意識が高くなる。そして日本は、原爆の愚かさ を訴え、世界中から核兵器をなくしていくリーダーに。こうして日本は平和になったの だ!!
森富美議長 :太田総理、お願いします。
太田総理 :これ、やっぱ、キッカケんなったのは石破さんの尊敬する 久 間
きゅうま
さんが。
ね~、「しょうがない」と言ったという。で、戦争の事やなんかっていうの は我々は、あのう、体験してないですから。後から、その後の政治家の人達 あるいは、その、え~、色んな人たちの発言をヒントに、ん~、その悲惨さ を想像するしかないわけですけれども。戦争をなんだったんだろうと思う時 に、「あっ、しょうがないっていう見解もあるんだ」と、いう事をヒントに 判断していく事によって、やっぱり風化していくと思う。