JICA の援助重点分野の総合分析

In document Report (Page 34-37)

Pada umumnya MOL digunakan untuk mempercepat proses pengomposan (MOL keong), akan tetapi ada juga MOL yang digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman seperti MOL rebung bambu dan sayuran. Pembuatan MOL untuk budidaya SRI di lokasi penelitian terbagi atas tiga bagian yaitu :

a.MOL Keong : Terbuat dari keong 7 kg ditambah 14 liter air kelapa dan gula 3 kg. Semua bahan dihaluskan menjadi satu dan dimasukkan kedalam tong kemudian diaduk. Setelah itu ditunggu kurang lebih satu bulan (proses dekomposisi) semakin lama semakin baik. MOL ditutup rapat dan diberi selang plastik dan disambungkan pada botol yang telah berisi air untuk menjaga agar tidak meledak dan tetap terjaga proses anaerob (Gambar 4).

Cara penggunaan : Perbandingan konsentrasi antara MOL dengan air adalah 1:5 dan biasa ditambahkan 1 ons gula merah sebelum digunakan kemudian diaduk terlebih dahulu.

b.MOL rebung bambu : Cara pembuatannya adalah rebung bambu 9 kg dirajang kecil-kecil kemudian ditambah 15 lt air beras serta 0,5 kg gula yang telah dihaluskan kemudian dimasukkan kedalam ember/tong plastik dan diaduk, setelah itu ditutup rapat dan diberi selang plastik yang dihubungkan dengan botol yang berisi air (Gambar 4).

Cara penggunaan :

Sebelum dipakai biasanya ditambah gula merah 2,5 kg, sedangkan untuk dosis penyemprotan dapat dilihat di semprot MOL.

c.MOL limbah sayuran sampah pasar (kol, cesin, vetsay) : Cara pembuatannya adalah limbah sayuran 77 kg ditambah garam 4 kg dan 10 lt air beras serta gula 4 kg dihaluskan menjadi satu kemudian dimasukkan kedalam drum (Gambar 4) dan diaduk. Dosis penggunaannya dapat dilihat di semprot mol. Cara penyusunannya adalah di setiap ketebalan 20 cm (sayuran yang sudah diiris kecil-kecil) ditaburkan garam dan pada lapisan terakhir ditambahkan air beras.

Gambar 4. Proses pembuatan MOL

2.Pembuatan Kompos

Kompos dibuat sebagai pupuk organik pada budidaya SRI. Pembuatan kompos terbagi dalam tiga bagian :

a. Pembuatan dalam cetakan I (1 m3) : Susunannya adalah setiap ketebalan 25 cm bahan yang dikomposkan diberi MOL keong. Bahan-bahan yang digunakan adalah kulit singkong 118 kg kemudian jerami yang sudah dipotong kecil-kecil 53 kg, kohe 153 kg, serta hijauan (daun kirinya, kirinyuh, dan rerumputan) 81 kg (Gambar 5 (a)).

b. Pembuatan dalam cetakan II (1 m3) : Susunannya adalah sama setiap ketebalan 25 cm diberi mol keong. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah : kulit singkong 149 kg, jerami yang sudah dipotong- potong 90 kg, kohe 50 kg, kemudian ditambah lagi dengan kulit singkong diatasnya 170 kg (Gambar 5 (a)).

c. Pembuatan dengan cara dihamparkan. Sama halnya seperti pembuatan kompos dalam cetakan, yaitu di setiap lapisan diberi MOL keong. Bahan-bahan yang digunakan adalah rumput 80 kg, kulit singkong 400 kg, jerami 78 kg, hijauan (daun kirinya, kirinyuh) 65 kg, kulit singkong lagi 21 kg seperti Gambar 5 (b).

(a) (b)

Gambar 5. Proses pembuatan kompos

Proses pengomposan harus selalu dijaga tingkat kelembaban dan suhunya, selain itu juga harus diberi sirkulasi udara agar mikroba yang bekerja di dalamnya tidak mati. Kompos juga diletakkan di bawah saung untuk menghindari sinar matahari dan hujan secara langsung.

3.Uji Benih

Uji benih dilakukan untuk menyeleksi benih yang bagus. Benih yang digunakan adalah Varietas Sintanur 1 kg dan Varietas Ciherang 0,4 kg. Seleksi benih tersebut dilakukan dengan larutan air garam pekat. Indikator kepekatan larutan garam adalah dengan memasukkan telur mentah, apabila telur masih tenggelam maka ditambah lagi dengan garam sampai telur mengapung. Kemudian gabah yang dipilih dimasukkan kedalam larutan air garam, gabah yang tenggelam dipakai untuk benih, sedangkan gabah yang mengapung dibuang (Gambar 6).

(a) (b) Gambar 6. Uji benih

4.Semai

Media semai menggunakan nampan ukuran biasa. Bahan yang digunakan untuk semai SRI adalah tanah kering dicampur dengan kompos, perbandingannya adalah 1:1. Setiap hari persemaian disemprot dengan MOL rebung pada usia 5 hari setelah semai (Gambar 7 (a) dan (b)). Waktu untuk semai sampai pindah tanam kurang lebih 10 hari untuk benih tidak direndam, tetapi jika benih direndam terlebih dahulu waktu yang dibutuhkan kurang lebih satu minggu.

(a) (b) Gambar 7. Persemaian

5.Tebar Kapur

Setelah dilakukan pengukuran pH tanah ternyata pada petak penelitian kondisi tanahnya adalah asam dengan pH tanah berkisar antara 5~6. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah yang mempunyai pH antara 6~7, oleh karena itu perlu dilakukan pengapuran (Gambar 8). Tujuan pengapuran adalah untuk menaikkan pH tanah. Kapur yang telah ditebar sekitar 911,8 kg/ha. Dari hasil tebar kapur tersebut didapatkan pH rata-rata tanahnya sekitar 6,2.

Gambar 8. Tebar kapur

6.Tebar Kompos

Kompos yang dihasilkan ± 2300 kg atau setara dengan 6,7 ton/ha untuk ditebar pada lahan penelitian yang menggunakan metode SRI yaitu pada petak A (SRI diatur Sintanur), B (SRI petani), dan D (SRI diatur Ciherang) dengan luas sekitar 200 bata atau sekitar 2800 m2.

7.Tanam

Metode tanam SRI (Gambar 9) adalah sistem tanam satu-satu, dangkal dan horizontal membentuk huruf L dengan kondisi tanah lembab. Alasan benih ditanam dangkal adalah untuk mempercepat nutrisi diserap oleh akar, karena berada pada lapisan atas (top soil) yang kondisi tanahnya subur. Selain menghindari terbentuknya ruas-ruas atau buku-buku yang panjang pada bagian perakaran. Jarak tanam yang digunakan adalah 30 cm x 30 cm.

Gambar 9. Penanaman sistem SRI

8.Penyiangan

Penyiangan dilakukan saat padi berumur 10, 20, 30, dan 40 hari. Hal tersebut disesuaikan dengan kondisi gulma yang ada di lapangan. Penyiangan masih dilakukan secara manual menggunakan ”gasrok/landak”. Sesudah penyiangan biasanya dilakukan ”ngarambet” yaitu membersihkan gulma dengan tangan dan biasa dilakukan oleh ibu-ibu. Pada saat penyiangan padi

diberi genangan sekitar 1~2 cm untuk mempermudah operasi alat. Pernah diujicobakan penyiangan yang keempat menggunakan Power Weeder akan tetapi masih terdapat beberapa kelemahan. Ada beberapa saran dari petani untuk perbaikan Power Weeder kedepannya, agar dapat tetap berfungsi untuk keseluruhan penyiangan. Diantaranya adalah pada sisi bagian depan diberi penyibak batang padi seperti perahu agar menghindari batang terpotong oleh cakar selain itu pula untuk mempermudah pengopersiannya supaya tidak berat maka bagian depan seharusnya diberi roda. Gambar penyiangan menggunakan landak dan Power Weeder disajikan pada Gambar 10 (a) dan (b).

(a) (b)

Gambar 10. (a) Penyiangan menggunakan gasrok/landak (b) Penyiangan menggunakan Power Weeder

9. Semprot MOL

Semprot MOL untuk pertumbuhan (Gambar 11), MOL yang digunakan adalah MOL rebung dan sayuran. Semprot MOL dilakukan sebanyak 4 kali dan dilakukan 2~3 hari setelah penggasrokan. Adapun rinciannya sebagai berikut14 : untuk semprot mol yang pertama dosis perbandingan antara mol dengan air adalah 0,4 lt : 14 lt selanjunya untuk semprot yang ke dua dan seterusnya adalah 0,8 lt: 14 lt; 1,2 lt : 14 lt; dan 1,5 lt : 14 lt. Semprot MOL untuk petak SRI diatur Ciherang juga dilakukan menggunakan MOLsayuran15 yaitu setelah penggasrokan yang ke tiga dengan dosis perbandingan antara mol dengan air adalah 1: 8.

Gambar 11. Penyemprotan MOL

In document Report (Page 34-37)

Related documents