39ケーブル通信式タッチプローブ

In document 工作機械用タッチプローブ 06/2019 (Page 39-44)

Karena pelanggaran maka pasangan per- tama manusia itu menjadi berdosa. Tidak mampu lagi menentang Setan, akankah me- reka tetap bebas ataukah dibiarkan untuk bi- nasa? Masih adakah harapan?

Perjanjian Diberikan pada Waktu Ke- jatuhan. Sebelum Allah mengumumkan hu- kuman kepada pasangan yang jatuh ke da- lam dosa itu, Ia memberikan kepada mereka pengharapan dengan memperkenalkan per- janjian anugerah. Ia berkata, "Aku akan meng- adakan permusuhan antara engkau dan pe- rempuan ini, antara keturunanmu dan ketu- runannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tu- mitnya" (Kej. 3:15).

Pesan yang disampaikan Tuhan itu me- rupakan kekuatan bagi hati mereka karena diumumkan juga bahwa walaupun Setan me- nempatkan manusia di bawah kuasanya yang jahat, pada akhirnya dia pun akan dikalah- kan juga. Perjanjian telah diadakan antara Allah dengan manusia. Pertama-tama Allah menjanjikan melalui anugerah-Nya sebuah pertahanan melawan dosa. Ia akan menim- bulkan kebencian antara ular dari perempuan itu; antara pengikut Setan dengan pengikut Tuhan. Ini akan mengacaukan hubungan ma- nusia dengan Setan sehingga membuka ja- lan untuk mengadakan pembaharuan hubun- gan dengan Allah.

Dari abad ke abad perang berkelanjutan antara jemaat Allah dengan Setan. Konflik itu mencapai puncaknya pada waktu kema- tian Yesus Kristus, yang disiratkan dalam nu- buat Benih perempuan itu. Di Golgota, Se-

tan dikalahkan. Walau diremukkan Benih pe- rempuan itu, namun pembuat kejahatan itu dikalahkan dengan sempurna.

Semua orang yang mau menerima pem- berian Allah, anugerah-Nya, akan mengeta- hui perseteruan terhadap dosa akan membuat mereka berhasil dalam pertempuran mela- wan Setan. Melalui iman mereka turut me- ngambil bagian dalam kemenangan Kristus di bukit Golgota.

Perjanjian yang Diadakan Sebelum Penciptaan. Perjanjian pemberian anugerah itu tidaklah dikembangkan sesudah kejatuh- an. Kitab Suci membentangkan bahwa se- belum Penciptaan, Keallahan telah menga- dakan perjanjian antara sesama mereka un- tuk menyelamatkan umat manusia bila me- reka jatuh ke dalam dosa. Paulus mengata- kan Tuhan "telah memilih kita sebelum du- nia dijadikan, supaya kita kudus dan tak ber- cacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, se- suai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia" (Ef. 1:4-6; bandingkan 2 Tim. 1:9). Berbi- cara mengenai pendamaian yang dilakukan Kristus, Petrus berkata, "Ia telah dipilih sebe- lum dunia dijadikan" (1 Ptr. 1:20).

Perjanjian itu telah diadakan di atas da- sar, yang tidak dapat digoyahkan: janji dan sumpah Allah sendiri (Ibr. 6:18). Yesus Kris- tus merupakan jaminan perjanjian ini (Ibr. 7:22). Sebuah jaminan adalah diandaikannya seseorang dihukum karena utang atau jamin- an atas perkara orang lain yang seharusnya me- nerima hukuman. Pelayanan Kristus meru- pakan sebuah jaminan bahwa jika umat ma- nusia jatuh ke dalam dosa Ia akan menang- gung hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada mereka. Ia akan membayar harga pe- nebusan mereka; Ia akan mengadakan pen-

damaian atas dosa-dosa mereka; Ia akan me- menuhi tuntutan atas pelanggaran terhadap hukum Allah. Tidak ada manusia atau ma- laikat sekalipun yang mampu memikul tang- gung jawab yang demikian. Hanya Kristus sang Pencipta itu, yang menjadi wakil dan pemimpin umat manusia yang dapat melak- sanakan tanggung jawab itu (Rm. 5:12-21; 1 Kor. 15:22).

Anak Allah bukanlah hanya jaminan per- janjian itu, Ia juga menjadi pengantara atau pelaksana. Penggambaran-Nya mengenai misi-Nya sebagai Anak manusia yang men- jelma menunjukkan aspek peranan-Nya ini. Ia berkata, "Sebab Aku telah turun dari sor- ga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku" (Yoh. 6:38; banding- kan 5:30, 43). Kehendak Bapa ialah "supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang ke- kal" (Yoh. 6:40). "Inilah hidup yang kekal itu," kata-Nya, "yaitu bahwa mereka menge- nal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Eng- kau utus" (Yoh. 17:3). Pada penghujung tu- gas-Nya itu, Ia bersaksi mengenai pelaksa- naan yang dilakukan-Nya atas tugas yang di- emban-Nya dari Bapa dengan berkata, "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi de- ngan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melaku- kannya" (Yoh. 17:4).

Di kayu salib Yesus menggenapi janji- Nya untuk menjadi jaminan bagi manusia da- lam perjanjian itu. Jeritan "Sudah selesai" (Yoh. 19:30), menandai tuntasnya misi-Nya itu. Dengan hidup-Nya sendiri Ia telah mem- bayar hukuman atas pelanggaran hukum Al- lah, yang dituntut oleh hukum itu, menjamin keselamatan umat manusia yang bertobat. Pada saat itu darah Kristus mengesahkan per- janjian anugerah itu. Melalui iman dalam

darah-Nya yang mendamaikan, orang-orang yang berdosa dan bertobat akan diangkat menjadi putra-putri Allah, sehingga menja- di waris kehidupan kekal.

Janji anugerah ini menunjukkan kasih Al- lah yang tiada batasnya bagi umat manusia. Diadakan sejak sebelum Penciptaan, perjan- jian itu diungkapkan sesudah Kejatuhan. Pa- da ketika itu, dalam suasana yang khusus, Allah dan manusia menjadi sekutu.

Perjanjian Dibarui. Sayang sekali, jan- ji anugerah yang agung ini ditolak umat manusia baik pada zaman Air bah maupun sesudahnya (Kej. 6:1-8; 11:1-9). Ketika Al- lah mempersembahkan perjanjian itu kem- bali, hal itu dilakukan-Nya melalui Ibrahim. Lagi-lagi dikukuhkan-Nya janji penebusan: "Oleh keturunanmulah semua bangsa di bu- mi akan mendapat berkat, karena engkau men- dengarkan firman-Ku" (Kej. 22:18; banding- kan 12:3; 18:18).

Kitab Suci secara khusus meninggikan kesetiaan Ibrahim atas syarat-syarat perjan- jian itu. Ibrahim percaya kepada Tuhan se- hingga Ia "memperhitungkan hal itu kepa- danya sebagai kebenaran" (Kej. 15:6). Tu- rut sertanya Ibrahim dalam berkat-berkat per- janjian itu, yang dialaskan pada anugerah Allah, juga bergantung pada penurutannya menunjukkan bahwa perjanjian itu mening- gikan otoritas hukum Tuhan (Kej. 17:1; 26:5).

Karena iman Ibrahim yang seperti itulah yang membuat ia disebut "bapa semua orang percaya" (Rm. 4:11). Ialah contoh Allah me- ngenai pembenaran oleh iman yang menya- takan diri dalam penurutan (Rm. 4:2, 3; Yak. 2:23, 24). Perjanjian anugerah tidaklah se- cara otomatis mencurahkan berkat-berkat ke- pada keturunan Ibrahim secara lahiriah, me- lainkan hanya dengan mengikuti teladan iman Ibrahim."Mereka yang hidup dari iman,

mereka itulah anak-anak Ibrahim" (Gal. 3:7). Setiap individu di dunia ini dapat memper- oleh pengalaman atas janji-janji perjanjian keselamatan itu melalui pemenuhan syarat: "Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, ma- ka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah" (Gal. 3: 29). Dari pihak Allah perjanjian Sinai itu (juga lazim disebut perjanjian pertama) adalah se- buah pembaruan dari perjanjian yang dibe- rikan kepada Ibrahim, janji anugerah itu (Ibr. 9:1). Akan tetapi bangsa Israel mengacau- kannya dengan perjanjian amal (Gal. 4: 22- 31).

Perjanjian Baru. Kemudian nas-nas ki- tab suci berbicara mengenai tiadanya sebuah perjanjian yang lebih baik dan baru."11 Akan

tetapi hal itu disebutkan demikian bukankah karena perjanjian abadi itu telah diubah me- lainkan karena (1) ketidaksetiaan Israel per- janjian kekal Allah itu telah dikacaukan ke dalam sebuah sistem amal; (2) perjanjian itu dihubungkan dengan penyataan baru dari ka- sih Allah di dalam penjelmaan Kristus Ye- sus, hidup, mati, kebangkitan dan meditasi (bandingkan Ibr. 8:6-13); dan (3) di salib itu- lah disahkan dengan darah Kristus (Dan 9:27; Luk. 22:20; Rm. 15:8; Ibr. 9:11-22).

Betapa banyak yang diberikan bagi orang

orang yang menerima perjanjian ini. Mela- lui anugerah Allah diberikannya kepada me- reka keampunan atas dosa-dosa mereka. Juga memberikan Roh Kudus yang bekerja dan menuliskan Sepuluh Hukum di dalam hati mereka, serta memulihkan orang berdo- sa yang bertobat ke dalam citra Pencipta me- reka (Yer. 31:33). Perjanjian Baru, kelahi- ran baru, pengalaman mendatangkan pem- benaran Kristus serta pengalaman akan pem- benaran oleh iman.

Pembaruan hati menyanggupkan peruba- han individu sehingga mereka dapat meng- eluarkan buah-buah Roh: "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, ke- baikan, kesetiaan, kelemahlembutan, pengu- asaan diri" (Gal. 5:22, 23). Melalui kuasa anugerah Kristus yang menyelamatkan itu mereka dapat berjalan menempuh jalan yang dijalani Kristus, dari hari ke hari menikmati hal-hal yang berkenan kepada Allah (Yoh. 8:29). Pengharapan manusia yang telah ja- tuh ke dalam dosa itu hanyalah dengan me- nerima undangan Allah untuk masuk ke da- lam perjanjian anugerah-Nya. Melalui iman di dalam Yesus Kristus kita dapat mengalami hubungan ini yang memberikan jaminan ke- pada kita menjadi anak-anak Allah dan men- jadi ahli waris dalam kerajaan-Nya.

Referensi :

1. Doktrin tentang manusia telah lama digunakan dalam istilah teologis untuk membicarakan komponen-komponen kelu- arga manusia. Di dalam diskusi ini manusia tidak selamanya dimaksudkan pria, dengan mengesampingkan perempuan, istilah ini digunakan dalam bahasa Inggris dalam bentuk "man" hanya untuk sekedar memudahkan diskusi dan kelanju- tan tradisi dan semantik teologis.

2. Berkhof, Systematic Theology, hlm. 183. 3. "Soul," SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm. 1361. 4. "Soul," SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 1061. 5. Ibid., hlm. 1064.

6. SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 7, hlm. 257. 7. Ibid edisi revisi, jilid 3, hlm. 1090.

8. "Sin, 1" SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 1042.

9. James Orr, God's Image in Man (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1948), hlm. 3, 4.

Leonard Verduin, Somewhat Less than God:The Biblical View of Man (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1970), hlm. 69.

10. Leonard Verduin, Sonewhat Less than God:The Biblical View of Man (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1970), hlm. 69.

11. Perjanjian Baru menghubungkan pengalaman bangsa Israel di Bukit Sinai dengan perjanjian lama (Gal. 4:24, 25). Di Sinai Allah membarui perjanjian anugerah-Nya yang kekal kepada umat-Nya yang telah dilepaskan itu (1 Taw. 16:14- 17; Mzm. 105:8-11; Gal. 3:15-17). Allah berjanji kepada mereka, "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman- Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bang- sa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus" (Kel. 19:5, 6; bandingkan Kej. 17:7, 9, 19). Perjanjian itu diadakan berdasarkan pembenaran oleh iman (Rm. 10:6-8; Ul. 30:11-14) dan hukum itu akan dituliskan di dalam hati mereka (Ul. 6:4-6; 30:14).

Perjanjian anugerah selalu menjadi pokok kekacauan oleh orang-orang percaya yang menempatkannya di bawah sebuah sistem keselamatan melalui amal atau perbuatan. Paulus menggunakan kegagalan Abraham untuk bergantung kepada Tuhan—yang bergantung kepada perbuatannya sendiri untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya—sebagai satu ilustrasi dari Perjanjian Lama (Kej. 16; 12:10-20; 20; Gal. 4:22-25). Sesungguhnya pengalaman pembenaran oleh per- bu-atan telah ada sejak dosa masuk ke dunia ini dan perjanjian yang kekal itu dilanggar (Hos. 6:7).

Sepanjang sejarah bangsa Israel umumnya mereka mencoba "menegakkan kebenaran mereka sendiri" melalui "melalui hukum Taurat" (Rm. 9:30-10:4). Mereka hidup sesuai dengan apa yang tersurat, tidak sesuai dengan Roh (2 Kor. 3:6). Mereka mencoba membenarkan diri mereka melalui hukum (Gal. 5:4), mereka hidup di bawah hukuman hukum dalam perhambaan, bukannya dalam kemerdekaan (Gal. 4:21-23). Dengan demikianlah mereka mengacaukan perjanjian yang diadakan di Bukit Sinai itu.

Buku Ibrani menerapkan yang pertama atau perjanjian yang lama kepada sejarah bangsa Israel sejak Sinai seraya meng- ungkapkan sifat kontemporernya. Dinyatakannya bahwa keimamatan Lewi bersifat sementara, menunjukkan fungsi simbolik sampai wujudnya dalam Kristus menjadi kenyataan (Ibr. 9:10). Alangkah sedihnya karena begitu banyak orang yang gagal melihat ini dalam diri mereka sendiri dan dalam upacara-upacara yang menjadi kehilangan makna (Ibr. 10:1). Bertalian dengan sistem "bayang-bayang" tatkala bentuk menjadi wujud bayang-bayang menjadi kenyataan, mengacaukan misi sejati Kristus. Oleh karena itu bahasa yang tegas digunakan untuk menekankan superioritas perjan- jian yang baru dan yang Iebih baik daripada perjanjian di Bukit Sinai.

Perjanjian yang lama, oleh karena itu, dapat digambarkan dalam istilah yang negatif maupun positif. Secara negatif, yang menunjuk kepada pemutarbalikan janji kekal Allah yang dilakukan banyak orang. Yang positif, adanya untuk tu- juan sementara dalam pelayanan di dunia ini yang direncanakan oleh Allah untuk memenuhi keadaan darurat yang di- timbulkan oleh kegagalan manusia. Baca juga White, Patriarchs and Prophets, hlm. 370-73; White, "Our Work,"Review and Herald, 23 Juni 1904, hlm. 8; White, "A Holy Purpose to Restore Jerusalem" Southern Watchman, 1 Maret 1904, hlm. 142; Hasel, Covenant in Blood (Mountain View, CA: Pacific Press, 1982); bnd Wallenkampt, Salvation Come From the Lord (Washington, D.C.: Review and Herald, 1983), hlm. 84-90.

In document 工作機械用タッチプローブ 06/2019 (Page 39-44)

Related documents