以 上 別紙様式2

In document 1-33 (Page 52-56)

Kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan kesamaan rencana penebusan, di- nyatakan oleh fakta bahwa Allah yang sama jualah yang berbicara dan bertindak, baik dalam Perjanjian Lama dan Baru, untuk ke- selamatan umat-Nya. “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali, dan dalam pel- bagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pa- da zaman akhir ini Ia telah berbicara kepa- da kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak mene- rima segala yang ada. Oleh Dia, Allah telah menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:1, 2). Wa- laupun Perjanjian Lama menyinggung Pri- badi-pribadi Keallahan, itu bukan berarti membedakan Mereka. Bahkan Perjanjian Baru membuat jelas bahwa Kristus, Anak Allah, adalah pribadi yang aktif dalam Pen- ciptaan (Yoh. 1:1-3, 14; Kol. 1:16) dan Dia- lah Allah yang menuntun Israel keluar dari Mesir (1 Kor. 10:1-4; Kel. 3:14; Yoh. 8:58). Apa yang dikatakan Perjanjian Baru menge- nai peranan Kristus dalam Penciptaan dan Keluaran seringkali menyampaikan gambar Allah Bapa kepada kita melalui Allah Anak itu. “Sebab Allah mendamaikan dunia de- ngan diri-Nya” (2 Kor. 5:19). Perjanjian La- ma melukiskan Bapa dalam istilah berikut:

Allah Penyayang dan Pengasih. Tidak ada manusia berdosa yang pernah melihat wajah Allah (Kel. 33:20). Kita tidak memi- liki gambar wajah-Nya atau wujud-Nya. Al- lah menyatakan tabiat-Nya melalui perbuat-

an-Nya yang penuh murahan dan melalui gambaran yang diumumkan-Nya kepada Musa: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih- Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebas- kan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak- anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat” (Kel. 34:6, 7; ban- dingkan Ibr. 10: 26, 27). Namun demikian, kemurahan bukanlah pengampunan yang buta, melainkan dituntun oleh prinsip keadil- an. Barangsiapa yang menolak kemurahan- Nya akan menuai hukuman atas dosa-dosa- nya.

Di Bukit Sinai Tuhan Allah menyatakan kerinduan-Nya menjadi sahabat bagi bang- sa Israel, agar senantiasa .bersama-sama me- reka. Ia berkata kepada Musa, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supa- ya Aku akan diam. di tengah-tengah me- reka” (Kel. 25:8). Karena tempat itulah tem- pat Allah di atas dunia ini, maka kaabah men- jadi titik pusat pengalaman ibadah Israel.

Perjanjian Allah. Untuk menciptakan hubungan yang kekal dengan umat-Nya, Tu- han Allah mengadakan perjanjian yang ku- dus dengan mereka, misalnya dengan Nuh (Kej. 9:1-17) dan Ibrahim (Kej. 12:1-3, 7; 13:14-17; 15:1, 5, 6; 17:1-8; 22:15-18; lihat bab 7 buku ini). Perjanjian ini menunjuk- kan satu pribadi, Allah yang menaruh kasih dan perhatian kepada keperluan umat-Nya. Kepada Nuh Ia memberikan jaminan dengan musim yang tetap (Kej. 8:22) dan bahwa ti- dak akan terjadi lagi air bah yang menutupi seluruh permukaan bumi (Kej. 9:11); dan ke- pada Ibrahim Ia berjanji akan memberikan

sejumlah keturunan yang banyak (Kej. 15:5- 7) dan sebuah negeri yang akan didiami oleh keturunannya (Kej. 15:18: 17:8).

Allah Penebus. Sebagaimana halnya Al- lah yang membawa bangsa Israel keluar, Ia memimpin satu bangsa budak dengan cara yang penuh mukjizat menuju kemerdekaan. Karya penebusan yang agung ini adalah la- tar belakang seluruh Alkitab Perjanjian La- ma dan merupakan sebuah contoh kerindu- an-Nya menjadi Penebus bagi kita. Sesung- guhnya Allah tidak jauh, bukannya tidak dapat dihampiri, bukan pula sebuah pribadi yang bersikap acuh tak acuh, akan tetapi Se- orang Pribadi yang sangat terlibat dalam se- gala persoalan kita.

Khususnya Mazmur diilhami kedalaman kasih Allah yang turut serta: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang- bintang yang Kautempatkan: Apakah manu- sia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindah- kannya?” (Mzm. 8:4, 5). “Aku mengasihi Eng- kau, ya Tuhan, kekuatanku! Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamat- ku, Allahku, gunung batuku, tempat aku ber- lindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!”(Mzm. 18:2, 3). “Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik keseng- saraan orang yang tertindas” (Mzm. 22:25).

Allah Tempat Perlindungan. Daud me- lihat Allah sebagai tempat yang dapat men- jadi perlindungan bagi kita—seperti enam kota perlindungan Israel, tempat bernaung pengungsi yang tidak bersalah. Penulis Maz- mur menggunakan tema “perlindungan” apa- bila ia hendak menggambarkan Kristus dan Bapa. Keallahan adalah tempat berlindung. “Sebab Ia melindungi aku dalam pondok- Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyi- kan aku dalam persembunyian di kemah-

Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung ba- tu” (Mzm. 27:5). “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai peno- long dalam kesesakan sangat terbukti” (Mzm. 46:2). ”Yerusalem, gunung-gunung sekeli- lingnya; demikianlah Tuhan sekeliling umat- Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya” (Mzm. 125:2).

Penulis Mazmur melukiskan kerinduan- nya terhadap Allah sebagai berikut: ”Seper- ti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Al- lah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”(Mzm. 42:2, 3). Dari penga- laman, Daud memberikan kesaksian, “Serah- kanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara Engkau! Tidak untuk selama-la- manya dibiarkan-Nya orang benar itu go- yah” (Mzm. 55:23). “Percayalah kepada- Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita” (Mzm. 62:9)—”Allah pe- nyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia” (Mzm. 86:15).

Allah yang Suka Mengampuni. Sete- lah Daud melakukan dosa zina dan pem- bunuhan, ia memohon dengan sangat, “Kasi- hanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia- Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku de- ngan roh yang teguh!” (Mzm. 51:3, 12). Ia memperoleh penghiburan melalui jaminan bahwa Allah penuh kemurahan. “Tetapi se- tinggi langit di atas bumi, demikian besar- nya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, de- mikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelang- garan kita. Seperti bapa sayang kepada anak- anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia

sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (Mzm. 103:11-14).

Allah Kebajikan. Tuhan Allah “yang menegakkan keadilan untuk orang yang di- peras, yang memberi roti kepada orang yang lapar. Tuhan membebaskan orang yang terku- rung, Tuhan membuka mata orang buta, Tu- han menegakkan orang yang tertunduk, Tu- han mengasihi orang benar. Tuhan menjaga orang asing, anak yatim dan janda ditegak- kan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik di- bengkokkan-Nya” (Mzm. 146:7-9). Betapa besarnya gambaran mengenai Tuhan dilukis- kan dalam buku Mazmur!

Allah yang Setiawan. Selain kebesaran Allah, bangsa Israel hampir sepanjang masa menjauh dari Tuhan (Im. 26, Ul. 28). Allah digambarkan mengasihi orang Israel bagai suami yang mengasihi istrinya. Buku Hosea dengan tajam melukiskan kesetiaan Allah di tengah-tengah penolakan dan ketidaksetiaan yang parah. Pengampunan yang terus-me- nerus yang ditunjukkan Allah memperlihat- kan tabiat-Nya yang menaruh kasih tanpa syarat.

Walaupun Allah membiarkan bangsa Isra- el mengalami malapetaka yang disebabkan pendurhakaan mereka—dengan menegur ja- lan-jalan salah yang ditempuh mereka—Ia masih tetap memeluk mereka dengan kemura- han-Nya. Ia memberikan jaminan, “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan ti- dak menolak engkau; janganlah takut, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bah- kan akan menolong engkau... dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yes. 41:9, 10). Walaupun mereka tidak setia, Ia te- tap memberikan janji dengan penuh belas kasi- han, “Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal berubah setia yang dilakukan mere-

ka terhadap Aku dan mengakui juga bahwa hidup mereka bertentangan dengan Daku, ... atau bila kemudian hari mereka yang tidak bersunat itu telah tunduk dan mereka telah membayar pulih kesalahan mereka, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; juga perjanjian-Ku dengan Ishak dan per- janjian-Ku dengan Abraham pun” (Im. 26:40- 42; Yer. 3:12).

Allah mengingatkan umat-Nya mengenai tingkah laku perbuatan-Nya yang bersifat pe- nebusan: “Hai Israel, engkau tidak Kulupa- kan. Aku telah menghapus segala dosa pem- berontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!” (Yes. 44:21, 22). Ti- daklah mengherankan jika Ia berkata, “Ber- palinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain” (Yes. 45:22).

Allah Keselamatan dan Pembalas. Per- janjian Lama melukiskan Allah sebagai Tu- han yang pembalas, haruslah dilihat dalam konteks pemusnahan umat-Nya yang setia oleh orang jahat. Melalui tema “hari Tuhan” para nabi menunjukkan tindakan-tindakan Tuhan demi kepentingan umat-Nya pada akhir zaman. Inilah hari keselamatan bagi umat-Nya, namun merupakan hari pemba- lasan atas musuh-musuh mereka yang akan dibinasakan. “Katakanlah kepada orang yang tawar hati: ‘Kuatkanlah hati, janganlah ta- kut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!’” (Yes. 35:4).

Allah Bapa. Kepada bangsa Israel, Musa menyatakan Allah sebagai Bapa, yang telah menebus mereka: “Bukankah Ia Bapamu

yang menciptakan engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau?” (Ul. 32:6). Me- lalui penebusan, Allah menjadikan Israel se- bagai anak-Nya. Yesaya menulis, “Ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami” (Yes. 64:8; banding- kan 63:16). Melalui Maleakhi, Allah mengu- kuhkan, “Aku ini Bapa” (Mal. 1:6). Di mana- mana, Maleakhi menghubungkan kebapaan Allah atas peran-Nya sebagai Pencipta: “Bu- kankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita?” (Mal. 2:10). Allah adalah Bapa kita baik me- lalui Penciptaan maupun penebusan. Beta- pa kebenaran yang amat mulia!

ALLAH BAPA DALAM PERJANJIAN

In document 1-33 (Page 52-56)

Related documents