ギリシャ Grèce (Greece)

In document ヨーロッパ(ア~タ行) (Page 78-84)

Sebuah pengetahuan yang benar menge- nai Allah dan kasih-Nya serta kemurahan- Nya tidaklah cukup. Upaya yang dilakukan dengan tidak mengikutsertakan Kristus, yak- ni dengan kebajikan diri sendiri saja adalah lancung (palsu). Pengalaman keselamatan yang jauh menyusup ke dalam jiwa hanya berasal dari Tuhan saja. Berbicara menge- nai pengalaman ini, Kristus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seo- rang tidak dilahirkan kembali, ia tidak da- pat melihat Kerajaan Allah.... Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh. 3:3, 5).

Hanya melalui Kristus Yesus saja seseo- rang dapat pengalaman keselamatan, “sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4: 12). Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebe- naran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Pengalaman keselamatan menyangkut pertobatan, pengakuan, keampunan, pembe- naran dan penyucian.

Pertobatan. Menjelang penyaliban-Nya, Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya akan memberikan Roh Kudus, yang akan me- nunjukkan Dia melalui upaya untuk “meng- insafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh. 16:8). Ketika Pentakos- ta, Roh Kudus menginsafkan orang atas per- lunya mereka memperoleh seorang Juruse- lamat, dan mereka menanyakan bagaimana- kah mereka sebaiknya menyambutnya, ma- ka Petrus menjawab, “Bertobatlah!” (Kis. 2: 37, 38; bandingkan 3:19).

1. Apakah pertobatan itu. Kata per- tobatan adalah terjemahan dari bahasa Ibra- ni nacham, “meminta maaf,’ “bertobat.” Pa- danannya dalam bahasa Yunani metanoeo yang berarti “mengubah pikiran seseorang,” “merasa menyesal,” “bertobat.” Pertobatan yang sejati timbul dalam satu perubahan yang radikal dalam tingkah laku terhadap Al- lah dan dosa. Roh Allah menginsafkan orang yang menerima-Nya betapa seriusnya dosa itu membawa mereka ke dalam suatu pe- rasaan kebenaran Allah dan keadaan mere- ka yang telah jauh terhilang. Mereka menga- lami suatu perasaan duka mendalam, dan ra- sa bersalah yang menekan. Dengan menga- kui kebenaran karena “siapa menyembunyi- kan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkan- nya akan disayangi” (Ams. 28:13), mereka akan mengakui dosa-dosa mereka sampai se- kecil-kecilnya. Dengan bertekad sepenuh ha- ti, mereka tunduk sepenuhnya kepada Juru- selamat serta meninggalkan tabiat mereka yang penuh dengan dosa. Oleh karena itu, pertobatan mencapai puncaknya dalam pe- ngakuan—orang berdosa yang berpaling ke- pada Allah (dari bahasa Yunani epistrophe,

“berpaling kepada,” bandingkan Kis. 15:3).2

Pertobatan Daud dari dosa-dosanya, ber- zina dan membunuh, jelas merupakan con- toh bagaimana pengalaman ini menyiapkan jalan kemenangan terhadap dosa. Karena di- insafkan oleh Roh, ia merasa hina karena do- sanya, meratapi nasibnya dan memohon pe- nyucian: “Sebab aku sendiri sadar akan pe- langgaranku, aku senantiasa bergumul de- ngan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan mela- kukan apa yang Kau anggap jahat.” “Kasiha- nilah aku, Ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rah- mat-Mu yang besar!” “Jadikanlah hatiku ta- hir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku de-

ngan roh yang teguh” (Mzm. 51:3, 5, 6, 12). Pengalaman Daud yang berikutnya menun- jukkan bahwa pengampunan Allah tidak saja menyediakan pengampunan bagi dosa teta- pi juga memulihkan mereka kembali dari do- sa.

Walaupun pertobatan mendahului peng- ampunan, orang berdosa tidak dapat mela- lui pertobatan itu melayakkan dirinya sendi- ri untuk memperoleh jaminan berkat Allah. Sesungguhnya, orang berdosa tidak dapat menghasilkan dari diri sendiri pertobatan— pertobatan itu karunia Allah (Kis. 5:31; ban- dingkan Rm. 2:4). Roh Kudus yang menarik orang berdosa kepada Kristus supaya orang berdosa itu dapat memperoleh pertobatan de- ngan hati yang sungguh-sungguh ikhlas me- ratapi dosa.

2. Motivasi untuk bertobat. Kristus ber- kata, “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang da- tang kepada-Ku” (Yoh. 12:32). Hati menja- di luluh dan takluk apabila kita merasakan bahwa kematian Kristus membenarkan kita serta melepaskan kita dari hukuman mati. Cobalah bayangkan perasaan narapidana yang sedang menunggu pelaksanaan hukum- an mati tatkala tiba-tiba pengampunan di- berikan padanya.

Di dalam Kristus orang berdosa bukan sa- ja diampuni tetapi juga dibebaskan—dan di- nyatakan benar! Sebenarnya ia tidak layak dan tidak akan dapat memperoleh perlakuan demikian! Sebagaimana yang dinyatakan Ra- sul Paulus, Kristus mati untuk membenarkan kita tatkala kita masih dalam keadaan tidak

berdaya, penuh dengan dosa, kurang iman’

dan seteru Allah (Rm. 5:6-10). Tidak ada sen- tuhan yang lebih dalam daripada sentuhan jiwa yang dilakukan oleh kasih Kristus yang mengampuni itu. Apabila orang-orang ber- dosa merenungkan kasih Ilahi yang tidak da-

pat diduga ini, yang diperlihatkan di atas ka- yu salib, mereka menerima motivasi yang paling tangguh yang mungkin didapat un- tuk bertobat. Inilah kebajikan Allah yang me- nuntun kita kepada pertobatan (Rm. 2:4).

Pembenaran. Di dalam kasih dan kemu- rahan Allah yang tidak terduga dalamnya, Allah menjadikan Kristus “yang tidak me- ngenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenar- kan oleh Allah” (2 Kor. 5:21). Melalui iman dalam Kristus, hati dipenuhi dengan Roh- Nya. Melalui iman yang sama ini, yang men- jadi karunia anugerah Allah (Rm. 12:3; Ef. 2:8), orang-orang berdosa yang bertobat di- benarkan (Rm. 3:28).

Istilah “Pembenaran” adalah terjemahan dari bahasa Yunani dikaioma yang berarti “sya- rat pembenaran, perbuatan,” “tindakan pem- benaran,” “pemulihan nama baik,” dan dika- iosis berarti “pembenaran,” “memulihkan na- ma baik,””dibebaskan dari utang.” Kata kerja dikaioo, artinya “dinyatakan dan diperlakukan sebagai benar,” “dibebaskan,” “dibenarkan,” “dilepaskan, dijadikan murni,” “pembenaran,” “dipulihkan,” “melakukan yang adil,” mem- beri gagasan tambahan atas makna istilah itu. Secara umum, pembenaran, sebagaimana digunakan menurut teologia, adalah “tindak- an Ilahi yang dengannya Allah menyatakan manusia yang menyesali dosanya dibenar- kan, atau dianggap sebagai orang yang be- nar. Pembenaran adalah kata lawan penghu-

kuman” (Rm. 5:16).4 Dasar pembenaran itu

bukanlah penurutan kita, melainkan Kristus, “sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.... Demiki- an pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” (Rm. 5:18, 19). Ia telah memberikan penurutan ini kepada orang-

orang percaya yang “telah dibenarkan de- ngan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm. 3:24).”Bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya” (Tit. 3:5).

1. Peranan iman dan perbuatan. Ba- nyak orang mempunyai keyakinan yang sa- lah bahwa kedudukan mereka di surga ber- gantung atas perbuatan baik atau perbuatan buruk mereka. Mengenai pertanyaan bagai- mana orang dibenarkan di hadapan Tuhan Allah, jelas sekali Paulus berkata, “Malah- an segala sesuatu kuanggap rugi, karena pe- ngenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, le- bih mulia daripada semuanya, ... supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri... mela- inkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Flp. 3:8, 9). Ia menunjuk kepada Abraham yang percaya “kepada Tuhan, dan Tuhan memper- hitungkan hal itu kepadanya sebagai kebe- naran” (Rm. 4:3; Kej. 15:6). Ia dibenarkan sebelum penyunatan, diperhitungkan benar bukan karena hal itu (Rm. 4:9, 10).

Kalau begitu, iman yang bagaimanakah yang dimiliki Abraham? Kitab Suci menya- takan bahwa “karena iman Abraham taat” tat- kala Allah memanggilnya, ia segera mening- galkan tanah kelahirannya dan kemudian ber- angkat “dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibr. 11:8-10; bandingkan Kej. 12:4; 13:18). la memiliki iman sejati, iman yang hidup dalam Tuhan yang dinyatakan- nya melalui penurutan. Hanyalah berdasar- kan iman yang dinamis inilah dibenarkan.

Rasul Yakobus juga mengamarkan ten- tang pemahaman lain yang kurang tepat me- ngenai dibenarkan oleh iman: bahwa sese- orang dapat dibenarkan oleh iman tanpa me- nunjukkan hubungan pekerjaan. Ia menun-

jukkan bahwa iman yang sejati tidak akan ada tanpa perbuatan. Seperti halnya Paulus, Yakobus melukiskan masalahnya dari sudut pengalaman Abraham. Dengan perbuatan Abraham mempersembahkan anaknya, Ishak (Yak. 2:21) ditunjukkannya imannya. “Ka- mu lihat,” kata Yakobus, “bahwa iman be- kerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak. 2:22). “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hake- katnya adalah mati” (Yak. 2:17). Pengalaman Abraham menyatakan perbuatan adalah buk- ti hubungan yang sejati dengan Allah. Iman yang membawa kepada pembenaran adalah iman yang hidup yang berbuat (Yak. 2:24). Paulus dan Yakobus sepakat mengenai pembenaran oleh iman. Sementara Paulus mengamanatkan betapa tidak benarnya pen- carian pembenaran melalui perbuatan, dan Yakobus mengaitkan betapa berbahayanya konsep pernyataan pembenaran tanpa per- buatan. Baik amal maupun iman yang mati tidaklah akan menuntun kepada pembenar- an. Hal itu dapat diwujudkan hanyalah de- ngan iman yang sejati yang bekerja berdasar- kan kasih (Gal. 5:6) yang memurnikan jiwa.

2. Pengalaman pembenaran. Melalui pembenaran oleh iman di dalam Kristus, ke- benaran-Nya dipertalikan kepada kita. Kita menjadi benar di hadapan Allah karena Kris- tus telah menjadi Pengganti kita. Mengenai Allah, kata Paulus, “Dia yang tidak menge- nal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa kare- na kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor. 5:21). Sebagai orang- orang berdosa yang bertobat, kita mengalami pengalaman dan pengampunan yang leng- kap. Kita diperdamaikan kepada Allah!

Khayal yang diperoleh Zakharia menge- nai Yosua, sang imam besar, digambarkan dengan sangat indahnya akan pembenaran.

Dalam khayal itu dikatakan Yosua berdiri di hadapan malaikat Tuhan dengan mengena- kan pakaian kotor, yang mewakili betapa na- jisnya dosa itu. Ketika ia berdiri di sana, Se- tan meminta supaya ia dihukum. Tuduhan Setan memang benar—Yosua memang tidak layak. Akan tetapi Tuhan, dalam kemurahan- Nya, mengecam Setan: “Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?” (Za. 3: 2). Bukankah ini milikku yang berharga yang telah ku pelihara dengan cara istimewa?

Tuhan memerintahkan agar pakaian yang kotor itu disingkirkan dengan segera, seraya berkata, “Tanggalkanlah pakaian yang ko- tor itu dari padanya.... Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari pada- mu! Aku akan mengenakan kepadamu pa- kaian pesta” (Za. 3:4).Tuhan kita yang pe- nuh kasih dan kemurahan melenyapkan tu- duhan Setan, membenarkan orang berdosa yang gemetar itu, menutupinya dengan ju- bah kebenaran Kristus. Sebagaimana jubah Yosua melambangkan dosa, begitu pula de- ngan jubah baru melambangkan pengalaman baru orang yang beriman dalam Kristus. Da- lam proses pembenaran itu, dosa-dosa yang diakui dan diampuni dialihkan kepada Anak Domba si penanggung dosa, Anak Allah yang kudus. “Orang percaya yang bertobat serta tidak layak itu, bagaimanapun, diberi jubah kebenaran Kristus. Penggantian jubah ini, yang Ilahi, merupakan transaksi yang menyelamatkan, adalah ajaran Alkitabiah mengenai pembenaran.” Orang percaya yang dibenarkan mengalami pengampunan dan dibersihkan dari dosa-dosanya.

Hasil-hasilnya. Apakah hasil-hasil per- tobatan dan pembenaran?

1. Penyucian. Kata “penyucian” adalah terjemahan dari kata Yunani hagiasmos, yang artinya “kekudusan,” “penahbisan,”

”penyucian,” dari hagiazo, yang artinya “membuat, kudus,” “menahbiskan,” “me- nguduskan,” “mengasingkan.” Padanannya dalam bahasa Ibrani ialah qadash, “memi-

sahkan dari kegunaan yang biasa.”6

Pertobatan sejati dan pembenaran me- nuntun kepada penyucian. Pembenaran dan

penyucian berhubungan erat,7 berbeda teta-

pi tidak dapat dipisahkan sama sekali. Ada dua fase keselamatan yang dinyatakannya: Pembenaran ialah apa yang dilakukan Tu- han bagi kita, sedangkan penyucian adalah apa yang dilakukan Tuhan dalam kita.

Penyucian maupun pembenaran sama se- kali bukanlah hasil jasa karena perbuatan. Kedua-duanya hanyalah menunjuk kepada karunia Kristus dan kebenaran-Nya. “Kebe- naran yang dengannya kita dibenarkan ada- lah dihisabkan, kebenaran yang dengannya kita disucikan adalah dibenarkan. Yang per- tama merupakan hak kita untuk masuk ke surga, sedangkan yang kedua adalah kela-

yakan kita masuk ke dalam surga.”8

Ketiga fase penyucian yang dikemukakan Alkitab ialah: (1) perbuatan atau tindakan penyempurnaan atas masa lalu orang yang beriman; (2) sebuah proses yang masih ber- langsung dalam pengalaman orang beriman pada masa kini; (3) dan hasil akhir yang di- alami orang beriman pada waktu kedatang- an Kristus yang kedua kali.

Terhadap masa lalu orang beriman, pada saat pembenaran orang beriman, maka itu juga dikuduskan “dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Kor. 6:11). Pria maupun wanita menjadi “orang saleh.” Pada keadaan yang demikian orang yang beriman ditebus, dan sepenuhnya men- jadi milik Allah.

Sebagai hasil panggilan Tuhan (Rm. 1:7), orang-orang yang beriman disebut “orang kudus” karena mereka berada “dalam Kris- tus Yesus” (Flp. 1:1; baca juga Yoh. 15:1-7),

bukan karena mereka sudah mencapai suatu keadaan tidak berdosa. Keselamatan adalah pengalaman yang sedang berlangsung. “Dia telah menyelamatkan kita,” kata Paulus, “ka- rena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang diker- jakan oleh Roh Kudus” (Tit. 3:5), telah meng- asingkan serta menguduskan kita untuk tuju- an yang suci serta untuk berjalan bersama Kristus.

2. Diangkat ke dalam keluarga Allah.

Pada saat yang bersamaan orang-orang per- caya yang baru telah menerima “Roh yang menjadikan.” Allah telah menjadikan mere- ka seperti anak-Nya, yang berarti menjadi putra-putri Raja! Ia telah menjadikan mere- ka milik-Nya, ahli waris, “menerimanya ber- sama-sama dengan Kristus” (Rm. 8:15-17). Adalah suatu kehormatan dan kegembiraan!

3. Jaminan keselamatan. Pembenaran menjadi jaminan penerimaan orang beriman. Didatangkannya kegembiraan karena diper- satukan kembali dengan Allah sekarang juga. Tidak menjadi soal betapa berdosa pun sese- orang pada masa lalu, Allah mengampuni se- mua dosa kita sehingga kita tidak berada lagi di bawah hukuman dan kutuk hukum. Pene- busan telah menjadi sebuah kenyataan. “Se- bab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan do- sa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef. 1:7).

4. Awal kehidupan baru yang penuh kemenangan. Pelaksanaan bahwa darah Ju- ruselamat menutupi dosa-dosa kita pada ma- sa lampau mendatangkan kesembuhan tu- buh, jiwa dan pikiran. Rasa bersalah tidak diperlukan lagi karena di dalam Kristus se- muanya sudah diampuni dan semuanya men- jadi baru. Dengan kecurahan anugerah-Nya

dari hari ke hari, Kristus mulai mengubah kita ke dalam gambar Allah.

Sementara iman kita bertumbuh di dalam Dia, pemulihan dan perubahan kita menda- pat kemajuan, dan diberikan-Nya kepada kita kemenangan atas kuasa kegelapan. Ke- menangan-Nya atas dunia ini memberikan jaminan kelepasan kita dari perhambaan dosa (Yoh. 16:33).

5. Pemberian hidup kekal. Hubungan ki- ta yang baru dengan Kristus mendatangkan hidup kekal. Yohanes mengukuhkan, “Barang- siapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; ba- rangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak me- miliki hidup” (1 Yoh. 5:12). Dosa kita yang banyak pada masa lalu telah diselesaikannya; melalui Roh yang tinggal di dalam kita, kita dapat menikmati berkat keselamatan.

PENGALAMAN KESELAMATAN

In document ヨーロッパ(ア~タ行) (Page 78-84)