snmpCommunityMIB グループ(SNMP COMMUNITY MIB)

ドキュメント内 IP8800/S2400 ソフトウェアマニュアル MIBレファレンス Ver.11.5対応 (Page 113-116)

SYNTAX

2   標準 MIB(RFC 準拠および IETF ドラ

2.17   snmpModules グループ

2.17.8  snmpCommunityMIB グループ(SNMP COMMUNITY MIB)

Sering kali kita melihat dalam kehidupan kita, bahwa praktek hidup menggereja menjadi kegiatan yang bersifat kewajiban dan rutinitas (kebiasaan) semata. Hidup doa dan penyerahan diri kepada Tuhan hanya menjadi sebuah simbol bagi kebanyakan orang. Kadang-kadang kita tidak berani melihat dan menerima kegagalan hidup karena hubungan yang tidak dekat dengan Tuhan. Kita kurang pasrah terhadap kehendak Tuhan, contohnya: tak jarang kita sudah merasa diri siap untuk mengikuti ulangan dan berdoa memohon penyertaan dan bimbingan Tuhan. Tapi mengapa kita masih kurang percaya diri dan mencoba untuk mencontek?

Berikut ini kita akan mencermati kisah tentang seseorang yang menyerahkan diri karena imannya.

Berserah Diri karena Iman

Pollicarpus adalah uskup kota Smirna (sekarang daerah Izmir, Turki). Ketika itu, umat kristiani sedang mengalami penganiayaan besar-besaran. Mereka harus mengakui kaisar sebagai Tuhan. Jika mereka menolak, maka mereka akan ditangkap dan dibunuh. Pollicarpus juga ditangkap. Sebenarnya, ia punya

Berserah Diri karena Iman

Pollicarpus adalah uskup kota Smirna (sekarang daerah Izmir, Turki). Ketika itu, umat kristiani sedang mengalami penganiayaan besar-besaran. Mereka harus mengakui kaisar sebagai Tuhan. Jika mereka menolak, maka mereka akan ditangkap dan dibunuh. Pollicarpus juga ditangkap. Sebenarnya, ia punya

Pollicarpus teguh mengimani Yesus.

kesempatan untuk melarikan diri, tetapi ia memilih bertahan. Ketika ditawan dan diadili, seseorang bertanya, “Pollicarpus! Apakah kamu akan tetap mengakui Yesus sebagai Tuhanmu?” Jawab Pollicarpus, “Selama 88 tahun aku melayani Dia, tidak sekali pun Yesus mengecewakan aku. Bagaimana mungkin sekarang aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkan aku?” Pollicarpus mengimani Yesus sebagai Tuhan. Karena keteguhannya itu, Ia akhirnya dihukum mati.

Apa yang dapat kita teladani dari sikap Pollicarpus? Dari kisah tersebut kita mengetahui bahwa iman seperti cinta, teruji pada saat yang sulit. Semakin mahal “harga” yang harus dibayar untuk mempertahankan iman kita, maka semakin cemerlanglah “kilau” yang ditampakkannya. Kesaksian hidup Pollicarpus menunjuk- kan hal itu. Kisahnya sangat menggugah hati.

Sekarang kita memang tidak mengalami seperti apa yang dialami Pollicarpus. Kita bebas untuk menjadi orang Kristen. Kita tidak perlu merasa khawatir dan takut untuk dikejar-kejar, ditangkap, atau dibunuh. Tetapi tantangan yang kita alami sekarang adalah tantangan yang ditimbulkan oleh hal-hal duniawi. Ada berbagai tantangan untuk semakin mengimani Yesus Kristus. Dalam hal yang sangat se- derhana, kita masih kerap mengesampingkan Tuhan Yesus karena kita lebih ingin bermain play station atau nonton TV dan malas berangkat ke gereja untuk merayakan ekaristi. Kita dituntut untuk setia terhadap Yesus yang kita imani. Kita bisa belajar dari sikap Pollicarpus yang setia terhadap Yesus dengan mengalahkan kesenangan-kesenangan duniawi.

Apa yang Dimaksud dengan Iman?

Kita sering menyebutkan kata iman. Namun apa sebenarnya iman itu? Iman berarti penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Penyerahan tersebut ditunjukkan dalam pertemuan dan kesatuan yang tak terpisahkan dengan Allah. Di dalam iman ada kepercayaan yang mengarahkan hidup seseorang kepada kehendak Tuhan. Dengan imannya, seseorang mengarahkan hidupnya kepada rencana dan kehendak Tuhan. Maka iman merupakan bentuk penyerahan diri secara utuh kepada penyelenggaraan ilahi (rencana Tuhan). Dengan kepercayaan yang teguh atas kebaikan Tuhan, kita bisa menyerahkan segala persoalan hidup kita dan mengandalkan hidup kita kepada

kesempatan untuk melarikan diri, tetapi ia memilih bertahan. Ketika ditawan dan diadili, seseorang bertanya, “Pollicarpus! Apakah kamu akan tetap mengakui Yesus sebagai Tuhanmu?” Jawab Pollicarpus, “Selama 88 tahun aku melayani Dia, tidak sekali pun Yesus mengecewakan aku. Bagaimana mungkin sekarang aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkan aku?” Pollicarpus mengimani Yesus sebagai Tuhan. Karena keteguhannya itu, Ia akhirnya dihukum mati.

Iman bukan hanya sebatas kata-kata atau pengakuan atau bahkan aturan yang berlaku. Tetapi iman lebih pada hubungan pribadi antara kita dengan Tuhan. Iman menuntut kesetiaan kita dengan Tuhan Sang Sumber Kehidupan. Kisah mengenai Pollicarpus yang setia kepada Tuhan menjadi contoh manusia beriman yang sejati.

Mengapa Kita Perlu Beriman?

Kita adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Sebagai makhluk yang sempurna, kita mengalami sejarah penyelamatan dalam peristiwa hidup kita masing- masing. Perlu diingat, bahwa Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan citra-Nya. Sejak kita diciptakan, Tuhan senantiasa menyertai dan memberikan keselamatan kepada kita. Ada peristiwa yang sangat penting untuk diingat, yaitu saat manusia mengalami penyelamatan yang luar biasa melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Penyelamatan ini membawa manusia pada pembebasan dari penderitaan akibat dosa. Kita yang mengimani Yesus Kristus juga akan memperoleh penye- lamatan dari-Nya. Iman inilah yang menjadi tanggapan kita terhadap cinta dan kasih Tuhan.

Apa Unsur Penting dalam Hidup Beriman?

Ada 3 aspek (unsur penting) dalam hidup orang beriman. Ketiga aspek tersebut adalah pengalaman religius, iman, dan pengetahuan. Pertama, mengenai pengalaman religius. Seseorang dikatakan beriman jika dia mengalami banyak pertemuan/ per jumpaan dengan Tuhan. Dari perjumpaan tersebut orang mengenal dan akrab dengan Tuhan. Kedua, berkaitan dengan iman. Dari perjumpaan dengan Tuhan seseorang kemudian mempunyai ikatan yang mendalam dengan Tuhan. Secara total ia menyerahkan dirinya ke dalam tangan Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam berbagai pengalaman hidupnya. Ketiga, berkaitan dengan pengetahuan. Seseorang yang beriman harus mengetahui lebih banyak tentang siapa yang diimaninya. Sudahkah kita mengenal Dia (Tuhan) yang kita imani? Sudahkah kita mengandalkan kekuatan Tuhan dalam hidup kita? Dan sudahkah kita mempunyai relasi (hubungan) akrab dengan-Nya?

Allah Mencobai Abraham (Kej 22:1-14)

Allah mencobai Abraham. Ia ber¿rman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. Ia membelah juga kayu untuk korban bakaran, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami akan kembali kepadamu.” Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama- sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Maka sampailah mereka ke

Allah Mencobai Abraham (Kej 22:1-14)

Allah mencobai Abraham. Ia ber¿ rman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. Ia membelah juga kayu untuk korban bakaran, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami akan kembali kepadamu.” Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama- sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Maka sampailah mereka ke

tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” Lalu Ia ber¿ rman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan- segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: ”TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: ”Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Abraham menunjukkan contoh penyerahan diri secara total dan tulus kepada Tuhan. Melalui kisah Abraham, Tuhan ingin membuktikan kesetiaan Abraham dengan meminta Abraham mengorbankan anaknya, yaitu Ishak. Abraham pun merasa diri wajib melaksanakan perintah Tuhan membawa Ishak untuk dipersembahkan. Abraham melakukan perintah Allah bukan karena takut atau tidak menyayangi anaknya. Abraham merasa bahwa dirinya milik Tuhan. Dengan demikian, Abraham merasa perlu mengembalikan segalanya kepada Tuhan. Tindakan Abraham juga menunjukkan bahwa kita senantiasa harus membalas kasih Tuhan dengan iman. Kisah ini semakin menegaskan bahwa kita hendaknya memiliki iman seperti Abraham. Hendaknya kita setia kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan total.

Ayo kita renungkan!

Abraham menunjukkan sikap orang beriman secara total. Itulah sebabnya kita juga patut meneladan sikap Abraham atau Pollicarpus yang setia kepada Tuhan. Namun dalam kehidupan sehari-hari bagaimana sikapmu kepada Tuhan? Pernahkah kamu melanggar perintah Tuhan? Jika pernah, ceritakan mengapa!

tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” Lalu Ia ber¿ rman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan- segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: ”TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: ”Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Ayo kita pikirkan!

1. Apa yang dimaksud dengan ”iman”? 2. Mengapa kita harus beriman?

3. Bagaimana kita bisa mempunyai iman seperti Abraham?

Ayo kita lakukan!

Menyadari kasih Tuhan kepada kita, buatlah agenda (jadwal) doa malam dan pagi yang sungguh-sungguh akan kamu laksanakan. Tuliskan evaluasi setiap harinya secara jujur! Kegiatan ini untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menguji kesetiaan kita kepada Tuhan.

Contoh:

Hari /tanggal/waktu Terlaksana/tidak Alasan

Senin/12 Februari 2010/pagi Tidak terlaksana Bangun siang, buru-buru ke sekolah

ドキュメント内 IP8800/S2400 ソフトウェアマニュアル MIBレファレンス Ver.11.5対応 (Page 113-116)